Antisipasi Kekeringan, PJT I Lakukan Operasi Modifikasi Cuaca di Wilayah Sungai Brantas (1)

Antisipasi Kekeringan, PJT I Lakukan Operasi Modifikasi Cuaca di Wilayah Sungai Brantas

Malang, 15 Oktober 2026 – Perum Jasa Tirta I (PJT I) memulai Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Daerah Tangkapan Air (DTA) Sutami, Jawa Timur, untuk mengoptimalkan potensi hujan dan memperkuat cadangan air waduk sebagai langkah antisipasi kekeringan. Kegiatan yang dimulai pada Kamis (15/10) ini direncanakan berlangsung selama 15 hari terbang melalui kerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), TNI Angkatan Udara (TNI AU) serta PT PLN Nusantara Power.

Pelaksanaan OMC dilatarbelakangi kondisi curah hujan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas yang diprakirakan masih rendah. Berdasarkan analisis BMKG, curah hujan di wilayah tersebut pada Oktober 2026 diprediksi berkisar 0–50 milimeter per bulan dengan sifat hujan dominan bawah normal. Kondisi ini berpotensi mengurangi aliran masuk (inflow) ke waduk, termasuk Waduk Sutami yang berperan penting dalam mendukung kebutuhan irigasi dan pembangkitan listrik di Jawa Timur.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan curah hujan di wilayah hulu Sungai Brantas guna mendukung ketersediaan air pada sejumlah waduk, antara lain Sengguruh, Sutami-Lahor, dan Wlingi. Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga keberlanjutan layanan air bagi kebutuhan irigasi pertanian, pembangkitan listrik, dan masyarakat.

Kepala Divisi Jasa ASA Wilayah Sungai Brantas PJT I, Adi Bowo Kusumo, mengatakan bahwa OMC menjadi salah satu langkah antisipatif untuk menjaga keandalan tampungan waduk di tengah dinamika iklim dan ketersediaan air.

“Melalui OMC, kami berupaya mengoptimalkan potensi hujan untuk menambah aliran masuk ke waduk kaskade, Sengguruh, Sutami-Lahor dan Wlingi. Upaya ini penting untuk menjaga kecukupan cadangan air, terutama dalam mendukung kebutuhan pertanian dan pembangkitan listrik, sekaligus mengantisipasi risiko kekeringan di Wilayah Sungai Brantas,” ujar Adi.

OMC dilaksanakan melalui penyemaian awan (cloud seeding) menggunakan bahan Natrium Klorida (NaCl) atau garam berbentuk serbuk halus. Total bahan semai yang digunakan sebanyak 3.200 kilogram NaCl dan akan ditambah secara bertahap. Bahan semai tersebut berfungsi membantu mempercepat proses pembentukan butiran hujan pada awan potensial. Penyemaian dilakukan berdasarkan analisis kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang memenuhi kriteria meteorologis.

Untuk mendukung pelaksanaan kegiatan, Pos Komando (Posko) OMC ditempatkan secara terpusat di Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Malang. Posko ini menjadi pusat koordinasi operasional dan pemantauan kondisi meteorologi selama kegiatan berlangsung.

Selama pelaksanaan OMC, PJT I bersama BMKG dan pihak terkait akan memantau perkembangan curah hujan, aliran masuk, serta kondisi tampungan waduk. Hasil pemantauan tersebut akan menjadi bahan evaluasi efektivitas pelaksanaan OMC dalam mendukung pengelolaan sumber daya air di Wilayah Sungai Brantas.

Melalui dukungan Kementerian Pekerjaan Umum dan BP BUMN serta kolaborasi PJT I, BMKG, TNI AU dan PT PLN Nusantara Power, pelaksanaan OMC diharapkan dapat terus mendukung penguatan cadangan air di musim kemarau sekaligus menjaga keberlanjutan pemanfaatan sumber daya air di Wilayah Sungai Brantas. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen pengelolaan sumber daya air yang adaptif dan berkelanjutan dalam mendukung ketahanan air, pangan dan energi nasional.

Sub Divisi Komunikasi Korporat dan Umum

Perum Jasa Tirta I

Jaga Keberlanjutan Infrastruktur SDA, PJT I Laksanakan Flushing Bendungan Sengguruh (3)

Jaga Keberlanjutan Infrastruktur SDA, PJT I Laksanakan Flushing Bendungan Sengguruh

Malang – Perum Jasa Tirta I (PJT I) akan melaksanakan kegiatan flushing atau penggelontoran sedimen di Waduk Sengguruh, Kabupaten Malang, mulai 5 hingga 15 Oktober 2026. Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pengendalian sedimentasi untuk menjaga kapasitas tampungan sekaligus mempertahankan keandalan fungsi Bendungan Sengguruh dalam sistem pengelolaan sumber daya air di Wilayah Sungai Brantas.

Pada awal beroperasi pada tahun 1989, Bendungan Sengguruh memiliki kapasitas tampungan mencapai 21,5 juta meter kubik. Namun, posisinya yang berada paling hulu dalam sistem Bendungan Brantas membuat Sengguruh menerima material sedimen dan sampah dalam jumlah yang cukup besar dari daerah tangkapan air di hulunya.

Berdasarkan hasil pengukuran tahun 2025, volume tampungan efektif Waduk Sengguruh tercatat sebesar 0,473 juta meter kubik. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penanganan sedimentasi secara berkala agar fungsi waduk tetap dapat dipertahankan.

Kepala Sub Divisi Pengelolaan SDA WS Brantas 1 Perum Jasa Tirta I, Arief Satria Marsudi, mengatakan bahwa flushing merupakan salah satu langkah pemeliharaan yang penting dilakukan di Waduk Sengguruh.

“Waduk Sengguruh terus menerima suplai sedimen yang terbawa aliran sungai dari wilayah hulu. Jika tidak dikendalikan, endapan tersebut akan semakin mengurangi ruang tampung waduk. Karena itu, flushing menjadi salah satu upaya yang kami lakukan untuk mengeluarkan kembali sebagian sedimen yang telah mengendap dan menjaga fungsi waduk tetap optimal,” ujar Arief.

Pada pelaksanaan flushing tahun 2026, PJT I menargetkan dapat menggelontorkan sekitar 700 ribu meter kubik sedimen dari Waduk Sengguruh.

Arief menjelaskan, pengendalian sedimentasi di Sengguruh memiliki arti penting karena bendungan ini mempunyai peran strategis dalam sistem bendungan di Sungai Brantas.

“Sengguruh berada di posisi paling hulu sehingga secara alami menjadi titik pertama yang menerima banyak material hasil erosi dari daerah tangkapan air. Dengan pengelolaan sedimentasi yang dilakukan secara berkelanjutan, kami ingin memastikan bendungan ini tetap mampu menjalankan fungsinya secara optimal dalam sistem Sungai Brantas,” jelasnya.

Pengendalian sedimentasi menjadi penting karena keberadaan Bendungan Sengguruh tidak hanya berkaitan dengan kapasitas tampungan waduk, tetapi juga keberlanjutan fungsi infrastruktur sumber daya air di sistem Brantas. Bendungan ini turut mendukung operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sengguruh dengan kapasitas pembangkitan sebesar 2 x 14,5 MW. Sedimen yang terus terakumulasi di waduk perlu dikelola secara berkala, salah satunya melalui flushing, dengan menggelontorkan sebagian endapan secara terkendali ke arah hilir agar ruang tampung dan fungsi Bendungan Sengguruh tetap terjaga.

“Flushing dilakukan untuk mengendalikan akumulasi sedimen yang terus terjadi di Waduk Sengguruh. Sebagian sedimen yang telah mengendap akan digelontorkan secara terkendali ke hilir. Karena itu, pelaksanaannya dilakukan dengan perhitungan dan pemantauan agar proses penggelontoran berjalan sesuai rencana dengan tetap memperhatikan kondisi sistem sungai di bagian hilir,” kata Arief.

Sosialisasi Dilakukan Sebelum Pelaksanaan Flushing

Sebelum kegiatan flushing dilaksanakan, PJT I telah melakukan sosialisasi dan koordinasi dengan berbagai pihak terkait, antara lain unsur TNI, Polri, serta masyarakat di sekitar wilayah terdampak. Pemberitahuan mengenai pelaksanaan kegiatan juga telah disampaikan kepada Bupati Malang.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh pihak memperoleh informasi yang memadai mengenai pelaksanaan flushing, termasuk potensi perubahan kondisi aliran sungai selama kegiatan berlangsung.

“Kami tidak hanya fokus pada aspek teknis pelaksanaan, tetapi juga pada keselamatan masyarakat di sekitar sungai. Karena itu, koordinasi dan penyampaian informasi dilakukan sejak sebelum kegiatan dimulai agar masyarakat memahami kondisi yang mungkin terjadi selama flushing dan dapat menyesuaikan aktivitasnya,” ujar Arief.

Selama pelaksanaan flushing, masyarakat di wilayah hilir Bendungan Sengguruh diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap peningkatan kekeruhan air serta perubahan debit dan kecepatan aliran sungai, serta menghindari aktivitas di badan sungai pada area yang berpotensi terdampak.

Kegiatan flushing direncanakan berlangsung hingga 15 Oktober 2026. Selama kegiatan berjalan, PJT I akan melakukan pemantauan secara berkala untuk memastikan proses penggelontoran berlangsung sesuai rencana dengan tetap mengutamakan aspek keselamatan.

Melalui kegiatan ini, PJT I terus berupaya menjaga keandalan Bendungan Sengguruh sekaligus mempertahankan manfaatnya bagi pembangkitan energi dan keberlanjutan pengelolaan sumber daya air di Wilayah Sungai Brantas.

— Perum Jasa Tirta I —