Malang – Perum Jasa Tirta I (PJT I) terus melakukan langkah-langkah strategis dalam memberikan pelayanan kepada PDAM Kota Malang melalui Water Treatment Plant (WTP) Sungai Bango. Kondisi lingkungan yang terdegradasi menjadi tantangan utama dalam pengelolaan WTP Bango saat ini. Utamanya ketika intensitas hujan tinggi yang berdampak pada debit air sungai Bango termasuk sampah yang terbawa oleh air.
Direktur Utama PJT I, Fahmi Hidayat menyoroti tantangan besar yang dihadapi dalam pengolahan air baku dari Sungai Bango, yakni tingginya beban sampah. “Hal yang menjadi perhatian kita bersama adalah kondisi air baku yang sangat dipengaruhi oleh sampah, terutama saat hujan di mana debit banjir membawa sampah dari hulu. Ini merupakan dampak dari kebiasaan pembuangan sampah ke sungai maupun sistem pengelolaan sampah yang belum memadai” ungkap Fahmi.
Mengantisipasi kondisi tersebut PJT I mempersiapkan beberapa langkah strategis untuk memastikan kualitas, kuantitas, dan kontinuitas pelayanan air baku tetap terjaga secara berkelanjutan bagi masyarakat Kota Malang. Langkah konkret yang dilakukan adalah melakukan penanganan hambatan pada pipa intake akibat sampah melalui pembersihan intensif di area intake dengan menerjunkan tim selam khusus yang dilatih untuk melakukan pembersihan sedimen dalam air.
Selain itu, PJT I telah memasang unit trash boom guna menghalau sampah permukaan agar tidak masuk ke dalam sistem pengolahan. Vice President Pengembangan Bisnis PJT I, Didik Ardianto, menjelaskan bahwa tantangan operasional saat ini sangat dipengaruhi oleh faktor alam.
“Saat curah hujan tinggi, debit sungai membawa muatan yang tidak hanya sampah namun juga sedimen yang dapat menutup saluran intake. Kami menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat,” ungkap Didik, Selasa (17/3/2021).
Menurutnya, sedimen dan sampah tentu berdampak pada kualitas air baku dari sungai yang masuk melalui intake. Namun bagi PJT I kualitas air adalah prioritas yang harus dijaga. “SOP pengelolaan SPAM Bango mengharuskan operator untuk melakukan penyesuaian produksi guna memastikan air yang dihasilkan tetap memenuhi standar kesehatan,” tambah Didik.
Ia menegaskan bahwa kualitas air produksi dipantau secara real-time melalui sistem SCADA dan juga melalui pengujian berkala setiap jam oleh petugas PJT I. “Hasil pengolahan kami secara konsisten memenuhi standar air minum sesuai Permenkes No. 2 Tahun 2023. Hal ini diperkuat dengan pengujian rutin oleh laboratorium independen (Sucofindo) yang menunjukkan bahwa sejak operasional Agustus 2025, kualitas air selalu memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan,” tambahnya.
PJT I telah menyiapkan beberapa langkah antisipatif dalam menghadapi tantangan perubahan musim agar pasokan tetap stabil. Berdasarkan studi kelayakan teknis, debit air (baseflow) Sungai Bango berada pada level yang aman untuk menjaga kontinuitas produksi meskipun memasuki musim kemarau. Langkah-langkah preventif dan perawatan aset juga terus dilakukan agar WTP Bango tetap menjadi pilar kemandirian air bersih bagi Kota Malang.
Fahmi Hidayat menambahkan, tantangan pengelolaan WTP Bango kedepan yang semakin kompleks memerlukan sinergi lintas sektor. Termasuk upaya kolektif dalam merubah perilaku masyarakat mulai dari hal yang sederhana, tidak membuang sampah sembarangan, pengembalian tata guna lahan di hulu yang menyebabkan peningkatan laju erosi hingga perbaikan vegetasi.
“Kami berharap keandalan WTP Bango bisa maksimal melayani kebutuhan masyarakat Kota Malang dari sisi kuantitas, kualitas dan kontinuitas. Di samping komitmen insan PJT I juga untuk terus melakukan evaluasi operasional secara komprehensif,” tutup Fahmi.


