PJT I bersama JKPKA Dorong Literasi Air Pelajar melalui Program Sekolah Sahabat Sungai

PJT I bersama JKPKA Dorong Literasi Air Pelajar melalui Program Sekolah Sahabat Sungai

Semarang, 20 Juni 2026 — Perum Jasa Tirta I (PJT I) bersama Jaring-jaring Komunikasi Pemantauan Kualitas Air (JKPKA) memperkuat edukasi lingkungan bagi generasi muda melalui penyelenggaraan Workshop Program Sekolah Sahabat Sungai di Tingkat SMA dan Pengenalan Pemantauan Kualitas Air di Tingkat SMP pada 19–20 Juni 2026 di Semarang.

Kegiatan bertema “Penguatan Peran JKPKA dalam Pelestarian Sungai melalui Program Sekolah Sahabat Sungai” ini menjadi bagian dari upaya membangun literasi air sejak usia sekolah. Melalui program tersebut, pelajar diajak memahami pentingnya sungai sebagai sumber kehidupan sekaligus diperkenalkan pada metode pemantauan kualitas air secara sederhana.

Kegiatan yang dilaksanakan di SMA Negeri 4 Semarang ini dihadiri oleh perwakilan dari 16 SMA dan 22 SMP. Workshop ini menjadi bagian dari upaya memperkuat edukasi lingkungan bagi generasi muda, khususnya dalam meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian sungai di Wilayah Sungai Jratunseluna.

Acara dibuka oleh Imam Buchori, Kepala Sub Divisi Pengusahaan WS Jratunseluna PJT I. Dalam sambutannya, Imam menyampaikan bahwa pelestarian sungai membutuhkan keterlibatan lintas pihak, termasuk sekolah dan pelajar sebagai generasi yang akan berperan penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

“Menjaga sungai bukan hanya tugas pengelola sumber daya air, tetapi menjadi tanggung jawab bersama. Melalui Program Sekolah Sahabat Sungai, kami ingin menumbuhkan kepedulian pelajar sejak dini agar mereka tidak hanya mengenal sungai sebagai bagian dari lingkungan sekitar, tetapi juga memahami cara memantau dan menjaga kualitas airnya,” ujar Imam.

Menurut Imam, peningkatan literasi air menjadi penting di tengah tantangan pengelolaan sumber daya air yang semakin kompleks. Selain membutuhkan penguatan infrastruktur dan tata kelola, keberlanjutan sungai juga sangat bergantung pada kesadaran dan perubahan perilaku masyarakat.

“Sekolah memiliki peran strategis sebagai pusat edukasi lingkungan. Dari sekolah, kesadaran menjaga sungai dapat tumbuh dan berkembang menjadi gerakan bersama yang lebih luas di masyarakat,” tambahnya.

Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan pembekalan mengenai pemantauan kualitas air dari aspek fisika, kimia, dan biologi. Para pelajar juga mengikuti praktik lapangan pemantauan kualitas air di Sungai Tinjomoyo, mulai dari pengamatan kondisi lingkungan, pengambilan sampel, hingga pengenalan indikator kualitas air.

Selain itu, peserta memperoleh materi pengenalan PJT I yang disampaikan oleh Abdul Razaq, Kepala Sub Divisi Pengelolaan SDA WS Jratunseluna PJT I. Materi tersebut memberikan pemahaman mengenai peran PJT I dalam pengelolaan sumber daya air, termasuk pentingnya menjaga kualitas air untuk mendukung keberlanjutan layanan sumber daya air bagi masyarakat.

Rangkaian workshop juga diisi dengan diskusi kelompok bersama guru pembimbing, presentasi hasil pemantauan, serta sosialisasi kerja sama JKPKA dengan sekolah dan kompetisi JKPKA. Melalui kegiatan ini, sekolah didorong untuk menjadi ruang belajar sekaligus ruang aksi dalam pelestarian sungai.

PJT I menilai, penguatan literasi air bagi pelajar sejalan dengan komitmen perusahaan dalam mendukung pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan. Sebagai BUMN pengelola sumber daya air, PJT I terus mendorong kolaborasi multipihak untuk menjaga kualitas air, memperkuat kepedulian lingkungan, serta mendukung ketahanan air nasional.

——————–

Sub Divisi Komunikasi Korporat dan Umum

PJT I Gandeng HEPS Korea Selatan Kembangkan Green Hydrogen Berbasis PLTS Terapung

PJT I Gandeng HEPS Korea Selatan Kembangkan Green Hydrogen Berbasis PLTS Terapung

Malang, 11 Juni 2026 – Perum Jasa Tirta I (PJT I) menjalin kemitraan strategis bersama HEPS Co., Ltd. Korea Selatan dalam pengembangan green hydrogen di wilayah kerja PJT I. Kerja sama ini menjadi bagian dari komitmen PJT I dalam mendukung transisi energi nasional melalui pemanfaatan energi baru terbarukan yang inovatif dan berkelanjutan.

Kemitraan tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) yang berlangsung di Kantor Pusat PJT I, Malang, pada 11 Juni 2026. Kerja sama ini berfokus pada pengembangan proyek produksi, penyimpanan, dan pemanfaatan hidrogen hijau berbasis Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung.

Direktur Perum Jasa Tirta I, Fahmi Hidayat, menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis PJT I dalam memperluas kontribusi perusahaan, tidak hanya pada pengelolaan sumber daya air, tetapi juga dalam mendukung agenda transisi energi bersih di Indonesia.

“PJT I memiliki potensi wilayah kerja yang dapat dikembangkan untuk mendukung pemanfaatan energi terbarukan, salah satunya melalui PLTS Terapung. Melalui kerja sama dengan HEPS, kami berharap dapat menghadirkan solusi energi hijau yang inovatif, berkelanjutan, dan memberi nilai tambah bagi pengelolaan sumber daya air,” ujar Fahmi.

Sinergi antara pengalaman PJT I dalam pengelolaan sumber daya air dan teknologi hidrogen yang dimiliki HEPS diharapkan dapat membuka peluang pengembangan ekosistem energi hijau, khususnya melalui pemanfaatan potensi PLTS Terapung sebagai sumber energi untuk produksi hidrogen hijau.

Pengembangan green hydrogen menjadi salah satu langkah penting dalam mendukung pengurangan emisi karbon serta memperkuat ketahanan energi nasional. Hidrogen hijau yang dihasilkan dari energi terbarukan memiliki potensi untuk dimanfaatkan pada berbagai sektor, mulai dari energi, industri, hingga transportasi rendah emisi.

Fahmi menambahkan, kerja sama ini juga sejalan dengan komitmen PJT I dalam mendorong pengelolaan sumber daya air yang adaptif terhadap tantangan masa depan, termasuk kebutuhan terhadap energi bersih dan berkelanjutan.

“Melalui langkah ini, PJT I terus memperkuat komitmen dalam mendukung pemanfaatan energi terbarukan, pengurangan emisi karbon, serta kontribusi terhadap ketahanan air dan energi untuk masa depan yang lebih berkelanjutan,” tambahnya.

Dengan adanya penandatanganan MoU ini, PJT I dan HEPS akan menjajaki berbagai potensi kerja sama teknis dan pengembangan proyek yang dapat diimplementasikan di wilayah kerja PJT I. Kolaborasi ini diharapkan menjadi awal dari penguatan peran PJT I dalam mendukung transformasi menuju ekonomi hijau dan pembangunan nasional yang berkelanjutan.

PJT I Serahkan IPAL Biogas untuk Wujudkan Lingkungan Bersih dan Energi Alternatif di Tulungagung (1)

PJT I Serahkan IPAL Biogas untuk Wujudkan Lingkungan Bersih dan Energi Alternatif di Tulungagung

Tulungagung, 10 Juni 2026 – Perum Jasa Tirta I (PJT I) menyerahkan bantuan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Biogas kepada masyarakat di dua desa di Kabupaten Tulungagung, yakni Desa Pagerwojo dan Desa Wonorejo. Penyerahan bantuan tersebut dilaksanakan secara bertahap pada 9–10 Juni 2026.

Program IPAL Biogas ini merupakan salah satu Program Prioritas Lingkungan PJT I sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat langsung kepada masyarakat di sekitar wilayah pengelolaan sumber daya air perusahaan.

Melalui program tersebut, PJT I terus memperkuat pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), khususnya pada Pilar Lingkungan. Program ini juga selaras dengan prinsip Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), terutama Pilar 6 yaitu Air Bersih dan Sanitasi Layak.

Direktur Perum Jasa Tirta I, Fahmi Hidayat, menyampaikan bahwa bantuan IPAL Biogas ini merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk menghadirkan program TJSL yang tidak hanya berorientasi pada bantuan fisik, tetapi juga memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.

“Melalui IPAL Biogas ini, PJT I ingin mendorong pengelolaan limbah yang lebih baik, sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Limbah kotoran ternak yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan dapat diolah menjadi energi alternatif dan pupuk organik yang bernilai guna,” ujar Fahmi.

Pemanfaatan biogas diharapkan dapat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan energi rumah tangga melalui pengolahan limbah kotoran ternak menjadi sumber energi gas. Selain itu, hasil pengolahan juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat penerima manfaat.

Program IPAL Biogas ini juga menjadi salah satu program PJT I yang dinilai dampak kebermanfaatannya melalui metode Social Return on Investment (SROI). Melalui pendekatan tersebut, perusahaan dapat mengukur nilai manfaat sosial, lingkungan, dan ekonomi yang dihasilkan dari program secara lebih komprehensif.

Fahmi menambahkan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada keterlibatan dan komitmen masyarakat dalam mengelola fasilitas yang telah diserahkan.

“Kami berharap IPAL Biogas ini dapat dijaga, dikelola, dan dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Dengan pengelolaan yang baik, manfaatnya tidak hanya dirasakan hari ini, tetapi juga dapat berkelanjutan bagi lingkungan, sosial, dan perekonomian masyarakat,” tambahnya.

PJT I berkomitmen untuk terus menghadirkan program TJSL yang berdampak, terukur, dan sejalan dengan kebutuhan masyarakat serta tantangan pengelolaan lingkungan. Melalui penyerahan IPAL Biogas di Desa Pagerwojo dan Desa Wonorejo, PJT I berharap dapat mendorong terciptanya lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan produktif bagi masyarakat Kabupaten Tulungagung.

_PJT I Perluas Wilayah Kerja, Siap Perkuat Pengelolaan Sumber Daya Air Nasional

PJT I Perluas Wilayah Kerja, Siap Perkuat Pengelolaan Sumber Daya Air Nasional

Malang, 8 Juni 2026 – Perum Jasa Tirta I (PJT I) resmi mendapatkan penugasan pengelolaan wilayah kerja baru melalui Keputusan Presiden Nomor 9 Tahun 2026 tentang Penambahan Wilayah Kerja Perum Jasa Tirta I. Penugasan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat pengelolaan sumber daya air secara terpadu dan berkelanjutan di berbagai wilayah Indonesia.

Melalui Keputusan Presiden tersebut, wilayah kerja PJT I bertambah pada empat wilayah sungai, yaitu Wilayah Sungai Bali-Penida, Wilayah Sungai Pompengan-Larona, Wilayah Sungai Saddang, dan Wilayah Sungai Parigi-Poso. Penambahan wilayah kerja ini dilakukan dalam rangka mendukung kebijakan pemerintah di bidang sumber daya air, khususnya melalui pengelolaan sumber daya air yang terpadu dan berkelanjutan.

Direktur Perum Jasa Tirta I, Fahmi Hidayat, menyampaikan bahwa penambahan wilayah kerja ini merupakan amanah sekaligus bentuk kepercayaan pemerintah kepada PJT I untuk memperluas kontribusi dalam pengelolaan sumber daya air nasional.

“Penambahan wilayah kerja ini menjadi amanah besar bagi PJT I. Kepercayaan yang diberikan pemerintah akan kami jawab dengan komitmen untuk mengelola sumber daya air secara profesional, berkelanjutan, serta memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat dan pembangunan nasional,” ujar Fahmi.

Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 9 Tahun 2026, PJT I sebagai pengelola sumber daya air melaksanakan sebagian tugas dan tanggung jawab dalam pengelolaan sumber daya air pada keempat wilayah sungai tersebut sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2010 tentang Perum Jasa Tirta I serta ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang sumber daya air.

Fahmi menambahkan, perluasan wilayah kerja ini menjadi momentum bagi PJT I untuk terus meningkatkan kapasitas organisasi, memperkuat tata kelola, serta membangun kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan di wilayah kerja baru.

“PJT I siap menjalankan tugas ini dengan penuh tanggung jawab. Kami akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan agar pengelolaan sumber daya air dapat berjalan optimal, adaptif, dan berkelanjutan,” tambahnya.

Dengan bertambahnya wilayah kerja tersebut, PJT I siap memperkuat perannya sebagai BUMN pengelola sumber daya air yang mendukung ketahanan air, menjaga kelestarian lingkungan, serta berkontribusi terhadap pembangunan nasional di berbagai wilayah Indonesia.

Sebagai wujud rasa syukur atas amanah baru tersebut, PJT I menggelar tasyakuran dan doa bersama pada 8 Juni 2026. Kegiatan tersebut diikuti oleh jajaran Direksi, Dewan Pengawas, serta insan PJT I, dan menjadi momentum internal untuk memperkuat kebersamaan, semangat kolaborasi, serta komitmen seluruh insan PJT I dalam mengemban tugas baru untuk negeri.

PJT I Perkuat Kolaborasi Pelestarian Sungai Brantas melalui Kegiatan Srawung Brantas dan Peresmian Paludarium

PJT I Perkuat Kolaborasi Pelestarian Sungai Brantas melalui Kegiatan Srawung Brantas dan Peresmian Paludarium

Malang, 5 Juni 2026 – Perum Jasa Tirta I (PJT I) memperkuat komitmen pelestarian Sungai Brantas melalui penyelenggaraan Srawung Brantas: Bincang Interaktif Ekosistem Sungai Brantas sekaligus peresmian Paludarium di Kantor Pusat PJT I, Malang, Jumat (5/6). Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.

Mengangkat semangat “srawung” yang bermakna berkumpul, berdialog, dan membangun kedekatan secara guyub, forum ini menjadi ruang pertemuan antara pengelola sumber daya air, akademisi, mahasiswa, komunitas lingkungan, dan generasi muda PJT I untuk membahas kondisi ekosistem Sungai Brantas serta upaya pelestarian keanekaragaman hayatinya.

Sungai Brantas merupakan salah satu sungai strategis di Jawa Timur yang memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat, mulai dari penyediaan air baku, irigasi, pengendalian banjir, hingga penopang ekosistem perairan. Karena itu, pelestariannya membutuhkan pendekatan kolaboratif dan tidak dapat hanya bertumpu pada satu pihak.

Direktur Utama Perum Jasa Tirta I, Fahmi Hidayat, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk memperluas ruang edukasi dan membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga keberlanjutan Sungai Brantas.

“Brantas bukan hanya infrastruktur sumber daya air, tetapi juga ruang hidup bagi masyarakat dan habitat bagi berbagai keanekaragaman hayati. Melalui Srawung Brantas, PJT I ingin menghadirkan ruang dialog yang lebih terbuka, setara, dan kolaboratif agar kepedulian terhadap sungai dapat tumbuh menjadi gerakan bersama,” ujar Fahmi.

Dalam kegiatan tersebut, PJT I menghadirkan Dr. Veryl Hasan, S.Pi., M.P., Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga, sebagai narasumber. Diskusi membahas keanekaragaman ikan air tawar, kondisi ekosistem Sungai Brantas, serta pentingnya perlindungan spesies lokal dan endemik sebagai bagian dari keseimbangan rantai ekologi perairan.

Dalam paparannya, Dr. Veryl Hasan menyampaikan bahwa Sungai Brantas memiliki kekayaan biodiversitas ikan air tawar yang perlu terus dikenali, dijaga, dan diperkenalkan kepada publik. Menurutnya, keberadaan ikan lokal dan endemik bukan hanya menjadi bagian dari kekayaan hayati, tetapi juga indikator penting dalam membaca kesehatan ekosistem perairan.

“Keanekaragaman ikan di Sungai Brantas merupakan aset ekologis yang sangat berharga. Beberapa spesies memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan rantai makanan dan kualitas ekosistem perairan. Karena itu, upaya pelestarian tidak cukup hanya dilakukan melalui pendekatan teknis, tetapi juga perlu diperkuat melalui edukasi, riset, dan keterlibatan masyarakat,” ujar Veryl.

Veryl juga mengapresiasi kehadiran Paludarium Brantas sebagai media edukasi yang dapat membantu masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih dekat mengenal kehidupan di dalam sungai. Menurutnya, upaya mengenalkan spesies lokal secara visual dan interaktif dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan kepedulian terhadap konservasi ekosistem perairan.

“Paludarium ini dapat menjadi ruang belajar yang menarik, karena masyarakat bisa melihat langsung bahwa sungai bukan hanya aliran air, tetapi juga rumah bagi berbagai makhluk hidup. Semakin banyak orang mengenal keanekaragaman hayati sungai, semakin besar pula peluang tumbuhnya kesadaran untuk menjaga dan memulihkannya,” tambahnya.

Forum tersebut juga dimoderatori oleh Dr. Ir. Sri Sudaryanti, M.S., akademisi dan peneliti dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya. Turut hadir Prof. Dr. Ir. Muhammad Musa, M.S., Arief Darmawan, S.Si., M.Sc., Ph.D., dosen FPIK Universitas Brawijaya, serta Dony Prasetyo, S.Pi., M.Si., Dosen Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang.

Selain unsur akademisi, kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa dan komunitas pegiat lingkungan, antara lain Ecoton, Sabers Pungli, dan Kaliku. Kehadiran komunitas tersebut menjadi bagian penting dalam memperkaya perspektif diskusi, terutama terkait kondisi lapangan, gerakan kerelawanan, dan praktik pelestarian sungai berbasis masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, PJT I meresmikan Paludarium Brantas sebagai sarana edukasi lingkungan di Kantor Pusat PJT I. Paludarium ini menampilkan sejumlah ikan endemik dan lokal Sungai Brantas, sekaligus menjadi media pembelajaran mengenai kekayaan biodiversitas perairan.

Melalui Paludarium Brantas, PJT I ingin menghadirkan edukasi lingkungan yang lebih dekat dan mudah dipahami. Sarana ini diharapkan dapat memperkenalkan kepada publik bahwa sungai tidak hanya berfungsi sebagai sumber air, tetapi juga menjadi habitat bagi berbagai spesies yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

“Edukasi lingkungan perlu dilakukan dengan cara yang lebih dekat dengan masyarakat. Paludarium Brantas diharapkan menjadi pengingat bahwa menjaga sungai berarti menjaga kehidupan di dalamnya, termasuk spesies lokal yang menjadi bagian dari identitas ekosistem Brantas,” lanjut Fahmi.

Sebagai BUMN yang mendapatkan mandat dalam pengelolaan sumber daya air di lima wilayah sungai strategis nasional, termasuk Wilayah Sungai Brantas, PJT I terus mendorong pengelolaan sumber daya air yang tidak hanya berorientasi pada aspek operasional, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan pelibatan pemangku kepentingan.

“Menjaga Brantas adalah kerja panjang dan kerja bersama. Melalui kolaborasi dengan akademisi, komunitas, mahasiswa, dan masyarakat, PJT I berkomitmen untuk terus memperkuat peran dalam menjaga sungai sebagai sumber kehidupan sekaligus rumah bagi keanekaragaman hayati,” tutup Fahmi.