PJT I DUKUNG ZERO WASTE

Perum Jasa Tirta I Dukung Zero Waste Academy sebagai Upaya Lindungi Sungai Brantas dari Sumber Sampah

Kediri – Perum Jasa Tirta I (PJT I) mendukung pelaksanaan Zero Waste Academy (ZWA) yang diselenggarakan oleh Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) sebagai ruang belajar strategis dalam penguatan pengelolaan sampah dari sumber. Kegiatan ini bertujuan mendorong perlindungan Sungai Brantas dari hulu hingga hilir melalui pendekatan sistemik berbasis pencegahan timbulan sampah di tingkat rumah tangga dan komunitas. Zero Waste Academy dilaksanakan pada 28–31 Januari 2026 di Kota Kediri.

Kegiatan Zero Waste Academy diikuti oleh lebih dari 50 peserta yang berasal dari lebih dari 12 kota/kabupaten di Pulau Jawa, dengan melibatkan beragam unsur pemangku kepentingan, antara lain BAPPEDA, Dinas Lingkungan Hidup, pemerintah desa dan kelurahan, akademisi, serta organisasi lingkungan. Komposisi peserta yang beragam ini mencerminkan semangat kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat upaya pengelolaan sampah berbasis pencegahan.
Direktur Utama Perum Jasa Tirta I, Fahmi Hidayat, menyampaikan bahwa keterlibatan PJT I dalam Zero Waste Academy merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga keberlanjutan kualitas sumber daya air.

“Perlindungan sungai tidak dapat hanya mengandalkan upaya di badan air, tetapi harus dimulai dari pengelolaan sampah di sumbernya. Melalui dukungan terhadap Zero Waste Academy, Perum Jasa Tirta I mendorong penguatan kapasitas masyarakat dan pemangku kepentingan agar mampu mengelola sampah secara bertanggung jawab, sehingga beban pencemaran ke sungai dapat ditekan secara signifikan,” ujar Fahmi.

Dukungan PJT I juga diwujudkan melalui kehadiran generasi muda PJT I, Aulia Agusta Alamsjah, yang turut menjadi narasumber dalam agenda workshop. Dalam kesempatan tersebut, Aulia membagikan pengalaman lapangan PJT I dalam pengendalian sampah di badan sungai, termasuk pemasangan trash barrier di titik-titik strategis untuk mencegah sampah masuk ke infrastruktur penting sumber daya air.

Disampaikan bahwa PJT I selama ini menangani sampah yang terlanjur masuk ke sungai melalui pengumpulan rutin, kemudian diangkut dan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Salah satu contoh nyata terdapat di Waduk Sengguruh, di mana volume sampah yang ditangani mencapai sekitar 35.000 meter kubik per tahun. Praktik ini menjadi pembelajaran penting bagi para peserta Zero Waste Academy dari berbagai daerah di Pulau Jawa mengenai tantangan dan penanganan sampah di badan sungai.

Lebih lanjut, dipaparkan pula bahwa sekitar 57,1% limbah padat di wilayah Brantas berasal dari aktivitas rumah tangga, sementara cakupan layanan persampahan di wilayah pedesaan masih terbatas, yakni sekitar 15%. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap kebocoran sampah ke sungai serta meningkatkan risiko pencemaran, termasuk temuan mikroplastik pada ikan di Sungai Brantas.

Melalui dukungan terhadap Zero Waste Academy, PJT I menegaskan bahwa upaya menjaga kualitas sungai harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu ke hilir dan dari darat ke air. Kolaborasi multipihak antara PJT I, ECOTON, pemerintah daerah, komunitas, akademisi, dan organisasi lingkungan diharapkan dapat memperkuat ekosistem pengelolaan sampah berbasis pencegahan, sehingga perlindungan Sungai Brantas sebagai sumber kehidupan dapat terwujud secara berkelanjutan.

PJT I JKPKA DAS BRANTAS TENGAH

Perkuat Edukasi Sungai, PJT I dan JKPKA Bangun Generasi Muda Peduli Kualitas Air di DAS Brantas Tengah

Tulungagung – Perum Jasa Tirta I (PJT I) bersama Jaring-jaring Komunikasi Pemantauan Kualitas Air (JKPKA) melaksanakan kegiatan sosialisasi dan regenerasi anggota JKPKA di Wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas Bagian Tengah. Kegiatan ini berlangsung di Kawasan Ori Green, Kabupaten Tulungagung, pada 31 Januari 2026, sebagai bagian dari upaya memperkuat edukasi lingkungan serta menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap pelestarian kualitas air sungai.

Kegiatan mengusung tema “Air untuk Hari Ini dan Esok: Peran Strategis JKPKA dalam Konservasi dan Edukasi Sungai yang Berkelanjutan”, dan diikuti oleh 27 sekolah yang tergabung dalam JKPKA di wilayah Tulungagung, Blitar, Kediri, dan Trenggalek. Secara rinci, peserta terdiri dari 27 guru pembina, 28 siswa, serta 9 peserta undangan. Program ini menjadi sarana penguatan kapasitas jejaring sekolah dalam melakukan pemantauan kualitas air sungai sekaligus mengintegrasikan materi sumber daya air ke dalam proses pembelajaran.

Dalam kegiatan tersebut, PJT I diwakili oleh Yulia Puspitaningroem, Kepala Sub Divisi Komunikasi Korporat dan Umum, yang memaparkan peran dan fungsi PJT I dalam pengelolaan sumber daya air, khususnya di Wilayah Sungai Brantas. Ia menyampaikan bahwa pengelolaan sumber daya air tidak hanya berfokus pada aspek teknis dan operasional, tetapi juga membutuhkan dukungan edukasi serta keterlibatan masyarakat sejak usia dini.

“Melalui kolaborasi dengan JKPKA, PJT I berupaya memperkuat ekosistem edukasi lingkungan dan mendorong keterlibatan generasi muda dalam menjaga kualitas air sungai sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan sumber daya air,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan meliputi penyegaran materi pemantauan kualitas air secara fisik, kimia, dan biologi, penulisan laporan hasil pemantauan, praktik lapangan pemantauan sungai, diskusi kelompok, hingga presentasi hasil pemantauan. Para peserta juga memperoleh penguatan mengenai peran sekolah sebagai agen perubahan dalam membangun budaya peduli sungai di lingkungan masing-masing.

Melalui kegiatan sosialisasi dan regenerasi ini, PJT I dan JKPKA berharap semakin banyak sekolah dan pelajar yang terlibat aktif dalam pemantauan kualitas air sungai. Dengan demikian, diharapkan tercipta sinergi yang berkelanjutan antara dunia pendidikan, masyarakat, dan pengelola sumber daya air dalam menjaga kelestarian sungai sebagai sumber kehidupan bagi generasi kini dan mendatang.