Antisipasi Kekeringan, PJT I Lakukan Operasi Modifikasi Cuaca di Wilayah Sungai Brantas (1)

Antisipasi Kekeringan, PJT I Lakukan Operasi Modifikasi Cuaca di Wilayah Sungai Brantas

Malang, 15 Oktober 2026 – Perum Jasa Tirta I (PJT I) memulai Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Daerah Tangkapan Air (DTA) Sutami, Jawa Timur, untuk mengoptimalkan potensi hujan dan memperkuat cadangan air waduk sebagai langkah antisipasi kekeringan. Kegiatan yang dimulai pada Kamis (15/10) ini direncanakan berlangsung selama 15 hari terbang melalui kerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), TNI Angkatan Udara (TNI AU) serta PT PLN Nusantara Power.

Pelaksanaan OMC dilatarbelakangi kondisi curah hujan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas yang diprakirakan masih rendah. Berdasarkan analisis BMKG, curah hujan di wilayah tersebut pada Oktober 2026 diprediksi berkisar 0–50 milimeter per bulan dengan sifat hujan dominan bawah normal. Kondisi ini berpotensi mengurangi aliran masuk (inflow) ke waduk, termasuk Waduk Sutami yang berperan penting dalam mendukung kebutuhan irigasi dan pembangkitan listrik di Jawa Timur.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan curah hujan di wilayah hulu Sungai Brantas guna mendukung ketersediaan air pada sejumlah waduk, antara lain Sengguruh, Sutami-Lahor, dan Wlingi. Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga keberlanjutan layanan air bagi kebutuhan irigasi pertanian, pembangkitan listrik, dan masyarakat.

Kepala Divisi Jasa ASA Wilayah Sungai Brantas PJT I, Adi Bowo Kusumo, mengatakan bahwa OMC menjadi salah satu langkah antisipatif untuk menjaga keandalan tampungan waduk di tengah dinamika iklim dan ketersediaan air.

“Melalui OMC, kami berupaya mengoptimalkan potensi hujan untuk menambah aliran masuk ke waduk kaskade, Sengguruh, Sutami-Lahor dan Wlingi. Upaya ini penting untuk menjaga kecukupan cadangan air, terutama dalam mendukung kebutuhan pertanian dan pembangkitan listrik, sekaligus mengantisipasi risiko kekeringan di Wilayah Sungai Brantas,” ujar Adi.

OMC dilaksanakan melalui penyemaian awan (cloud seeding) menggunakan bahan Natrium Klorida (NaCl) atau garam berbentuk serbuk halus. Total bahan semai yang digunakan sebanyak 3.200 kilogram NaCl dan akan ditambah secara bertahap. Bahan semai tersebut berfungsi membantu mempercepat proses pembentukan butiran hujan pada awan potensial. Penyemaian dilakukan berdasarkan analisis kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang memenuhi kriteria meteorologis.

Untuk mendukung pelaksanaan kegiatan, Pos Komando (Posko) OMC ditempatkan secara terpusat di Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Malang. Posko ini menjadi pusat koordinasi operasional dan pemantauan kondisi meteorologi selama kegiatan berlangsung.

Selama pelaksanaan OMC, PJT I bersama BMKG dan pihak terkait akan memantau perkembangan curah hujan, aliran masuk, serta kondisi tampungan waduk. Hasil pemantauan tersebut akan menjadi bahan evaluasi efektivitas pelaksanaan OMC dalam mendukung pengelolaan sumber daya air di Wilayah Sungai Brantas.

Melalui dukungan Kementerian Pekerjaan Umum dan BP BUMN serta kolaborasi PJT I, BMKG, TNI AU dan PT PLN Nusantara Power, pelaksanaan OMC diharapkan dapat terus mendukung penguatan cadangan air di musim kemarau sekaligus menjaga keberlanjutan pemanfaatan sumber daya air di Wilayah Sungai Brantas. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen pengelolaan sumber daya air yang adaptif dan berkelanjutan dalam mendukung ketahanan air, pangan dan energi nasional.

Sub Divisi Komunikasi Korporat dan Umum

Perum Jasa Tirta I

Jaga Keberlanjutan Infrastruktur SDA, PJT I Laksanakan Flushing Bendungan Sengguruh (3)

Jaga Keberlanjutan Infrastruktur SDA, PJT I Laksanakan Flushing Bendungan Sengguruh

Malang – Perum Jasa Tirta I (PJT I) akan melaksanakan kegiatan flushing atau penggelontoran sedimen di Waduk Sengguruh, Kabupaten Malang, mulai 5 hingga 15 Oktober 2026. Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pengendalian sedimentasi untuk menjaga kapasitas tampungan sekaligus mempertahankan keandalan fungsi Bendungan Sengguruh dalam sistem pengelolaan sumber daya air di Wilayah Sungai Brantas.

Pada awal beroperasi pada tahun 1989, Bendungan Sengguruh memiliki kapasitas tampungan mencapai 21,5 juta meter kubik. Namun, posisinya yang berada paling hulu dalam sistem Bendungan Brantas membuat Sengguruh menerima material sedimen dan sampah dalam jumlah yang cukup besar dari daerah tangkapan air di hulunya.

Berdasarkan hasil pengukuran tahun 2025, volume tampungan efektif Waduk Sengguruh tercatat sebesar 0,473 juta meter kubik. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penanganan sedimentasi secara berkala agar fungsi waduk tetap dapat dipertahankan.

Kepala Sub Divisi Pengelolaan SDA WS Brantas 1 Perum Jasa Tirta I, Arief Satria Marsudi, mengatakan bahwa flushing merupakan salah satu langkah pemeliharaan yang penting dilakukan di Waduk Sengguruh.

“Waduk Sengguruh terus menerima suplai sedimen yang terbawa aliran sungai dari wilayah hulu. Jika tidak dikendalikan, endapan tersebut akan semakin mengurangi ruang tampung waduk. Karena itu, flushing menjadi salah satu upaya yang kami lakukan untuk mengeluarkan kembali sebagian sedimen yang telah mengendap dan menjaga fungsi waduk tetap optimal,” ujar Arief.

Pada pelaksanaan flushing tahun 2026, PJT I menargetkan dapat menggelontorkan sekitar 700 ribu meter kubik sedimen dari Waduk Sengguruh.

Arief menjelaskan, pengendalian sedimentasi di Sengguruh memiliki arti penting karena bendungan ini mempunyai peran strategis dalam sistem bendungan di Sungai Brantas.

“Sengguruh berada di posisi paling hulu sehingga secara alami menjadi titik pertama yang menerima banyak material hasil erosi dari daerah tangkapan air. Dengan pengelolaan sedimentasi yang dilakukan secara berkelanjutan, kami ingin memastikan bendungan ini tetap mampu menjalankan fungsinya secara optimal dalam sistem Sungai Brantas,” jelasnya.

Pengendalian sedimentasi menjadi penting karena keberadaan Bendungan Sengguruh tidak hanya berkaitan dengan kapasitas tampungan waduk, tetapi juga keberlanjutan fungsi infrastruktur sumber daya air di sistem Brantas. Bendungan ini turut mendukung operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sengguruh dengan kapasitas pembangkitan sebesar 2 x 14,5 MW. Sedimen yang terus terakumulasi di waduk perlu dikelola secara berkala, salah satunya melalui flushing, dengan menggelontorkan sebagian endapan secara terkendali ke arah hilir agar ruang tampung dan fungsi Bendungan Sengguruh tetap terjaga.

“Flushing dilakukan untuk mengendalikan akumulasi sedimen yang terus terjadi di Waduk Sengguruh. Sebagian sedimen yang telah mengendap akan digelontorkan secara terkendali ke hilir. Karena itu, pelaksanaannya dilakukan dengan perhitungan dan pemantauan agar proses penggelontoran berjalan sesuai rencana dengan tetap memperhatikan kondisi sistem sungai di bagian hilir,” kata Arief.

Sosialisasi Dilakukan Sebelum Pelaksanaan Flushing

Sebelum kegiatan flushing dilaksanakan, PJT I telah melakukan sosialisasi dan koordinasi dengan berbagai pihak terkait, antara lain unsur TNI, Polri, serta masyarakat di sekitar wilayah terdampak. Pemberitahuan mengenai pelaksanaan kegiatan juga telah disampaikan kepada Bupati Malang.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh pihak memperoleh informasi yang memadai mengenai pelaksanaan flushing, termasuk potensi perubahan kondisi aliran sungai selama kegiatan berlangsung.

“Kami tidak hanya fokus pada aspek teknis pelaksanaan, tetapi juga pada keselamatan masyarakat di sekitar sungai. Karena itu, koordinasi dan penyampaian informasi dilakukan sejak sebelum kegiatan dimulai agar masyarakat memahami kondisi yang mungkin terjadi selama flushing dan dapat menyesuaikan aktivitasnya,” ujar Arief.

Selama pelaksanaan flushing, masyarakat di wilayah hilir Bendungan Sengguruh diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap peningkatan kekeruhan air serta perubahan debit dan kecepatan aliran sungai, serta menghindari aktivitas di badan sungai pada area yang berpotensi terdampak.

Kegiatan flushing direncanakan berlangsung hingga 15 Oktober 2026. Selama kegiatan berjalan, PJT I akan melakukan pemantauan secara berkala untuk memastikan proses penggelontoran berlangsung sesuai rencana dengan tetap mengutamakan aspek keselamatan.

Melalui kegiatan ini, PJT I terus berupaya menjaga keandalan Bendungan Sengguruh sekaligus mempertahankan manfaatnya bagi pembangkitan energi dan keberlanjutan pengelolaan sumber daya air di Wilayah Sungai Brantas.

— Perum Jasa Tirta I —

_Cara Kerja Bendungan dalam Mengendalikan Banjir Fungsi, Operasi, dan Manfaatnya

Cara Kerja Bendungan dalam Mengendalikan Banjir: Fungsi, Operasi, dan Manfaatnya

Bendungan Wlingi
Bendungan mengatur debit air untuk membantu mengurangi risiko banjir di wilayah hilir. (Sumber : jasatirta1.co.id)

Bendungan merupakan salah satu infrastruktur sumber daya air yang memiliki peran penting dalam mengurangi risiko banjir sekaligus memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat. Selain menampung air, bendungan dirancang untuk mengatur aliran sungai agar debit air yang mengalir ke wilayah hilir tetap berada dalam batas aman, terutama saat curah hujan meningkat.

Ketika musim hujan tiba, volume air yang mengalir dari daerah tangkapan air (DAS) menuju sungai dapat meningkat secara signifikan. Tanpa pengelolaan yang baik, lonjakan debit tersebut berpotensi menyebabkan sungai meluap dan mengakibatkan banjir. Di sinilah bendungan berfungsi sebagai pengendali, yaitu dengan menahan sebagian limpasan air untuk sementara, kemudian melepaskannya kembali secara bertahap sesuai kondisi hidrologi dan kapasitas sungai di hilir.

Namun, masih banyak anggapan bahwa bendungan bekerja hanya dengan membuka atau menutup pintu air ketika banjir terjadi. Faktanya, operasi bendungan jauh lebih kompleks. Pengelola bendungan harus mempertimbangkan berbagai parameter teknis, seperti debit air yang masuk (inflow), debit air yang keluar (outflow), elevasi muka air waduk, prakiraan cuaca, kapasitas tampungan, hingga aspek keselamatan bendungan. Seluruh proses tersebut mengacu pada pedoman operasi waduk sehingga setiap keputusan dilakukan secara terukur dan berbasis data.

Selain berfungsi sebagai pengendali banjir, bendungan juga mendukung penyediaan air baku, irigasi pertanian, dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), serta menjadi bagian dari sistem pengelolaan sumber daya air. Oleh karena itu, pengelolaan bendungan tidak hanya berorientasi pada kondisi saat banjir, tetapi juga memastikan ketersediaan air dan keamanan infrastruktur dalam jangka panjang.

Melalui artikel ini, Anda akan memahami bagaimana cara kerja bendungan dalam mengendalikan debit air, mengapa bendungan berperan penting dalam pencegahan banjir, serta bagaimana pengelolaan daerah aliran sungai turut menentukan efektivitas sistem pengendalian banjir secara keseluruhan.

Bendungan berfungsi menahan, menampung, dan mengatur aliran sungai untuk mengurangi risiko banjir sekaligus memenuhi berbagai kebutuhan sumber daya air. . (Sumber : jasatirta1.co.id)

Apa Sebenarnya Penyebab Banjir?

Banjir merupakan peristiwa meluapnya air hingga menggenangi wilayah yang dalam kondisi normal tidak tergenang. Kondisi ini terjadi ketika volume air yang mengalir melebihi kapasitas sungai maupun sistem drainase sehingga air tidak dapat dialirkan secara optimal ke hilir.

Penyebab banjir tidak hanya berasal dari tingginya curah hujan. Berbagai faktor alam dan aktivitas manusia saling memengaruhi dalam satu kesatuan daerah aliran sungai (DAS), sehingga peningkatan risiko banjir umumnya merupakan hasil dari kombinasi beberapa kondisi berikut.

  1. Curah hujan tinggi dalam durasi yang panjang

Hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung dalam waktu lama dapat membuat tanah mencapai kondisi jenuh. Ketika kemampuan tanah menyerap air menurun, sebagian besar air hujan berubah menjadi limpasan permukaan (surface runoff) yang mengalir menuju sungai. Jika volume limpasan terus bertambah, debit sungai meningkat hingga berpotensi melampaui kapasitas alirnya.

  1. Berkurangnya daerah resapan air

Alih fungsi kawasan hutan maupun lahan terbuka menjadi permukiman, kawasan industri, atau infrastruktur menyebabkan luas daerah resapan berkurang. Permukaan yang tertutup beton maupun aspal membuat air hujan lebih cepat mengalir ke saluran drainase dan sungai dibandingkan meresap ke dalam tanah. Akibatnya, debit air meningkat lebih cepat saat hujan turun.

  1. Pendangkalan dan penyempitan sungai

Sedimentasi akibat erosi serta penumpukan sampah dapat mengurangi kapasitas sungai dalam menampung aliran air. Sungai yang mengalami pendangkalan akan lebih mudah meluap meskipun peningkatan debit tidak terlalu besar. Kondisi ini juga dapat memperlambat aliran air menuju hilir sehingga memperbesar peluang terjadinya genangan.

  1. Sistem drainase yang kurang optimal

Saluran drainase berfungsi mengalirkan air hujan menuju sungai atau badan air lainnya. Ketika saluran mengalami penyumbatan, kerusakan, atau kapasitasnya tidak memadai, air akan tertahan di kawasan permukiman maupun jalan sehingga menimbulkan genangan yang dapat berkembang menjadi banjir.

Berbagai faktor tersebut menunjukkan bahwa pengendalian banjir memerlukan pendekatan yang menyeluruh. Selain memperbaiki kondisi daerah aliran sungai dan sistem drainase, keberadaan bendungan menjadi salah satu komponen penting dalam mengendalikan debit air agar tidak langsung mengalir ke wilayah hilir dalam jumlah besar.

Bagaimana Cara Kerja Bendungan dalam Mengendalikan Debit Air?

Petugas mengoperasikan Hollow Jet Valve (HJV) untuk mengatur dan mengendalikan aliran air di Bendungan Lahor.
Petugas mengoperasikan Hollow Jet Valve (HJV) untuk mengatur dan mengendalikan aliran air di Bendungan Lahor.

Prinsip utama cara kerja bendungan adalah menahan, menampung, dan mengatur aliran air sehingga debit yang mengalir ke wilayah hilir tetap berada pada tingkat yang dapat ditampung oleh sungai. Dengan demikian, bendungan berperan mengurangi puncak debit banjir (flood peak reduction) dan menurunkan risiko luapan air di kawasan hilir.

Ketika hujan deras mengguyur daerah tangkapan air, volume air yang masuk ke waduk (inflow) meningkat. Sebagian air tersebut ditampung terlebih dahulu di waduk sehingga tidak seluruhnya langsung mengalir menuju sungai di hilir. Proses penampungan sementara inilah yang membantu mengurangi besarnya debit puncak banjir.

Namun, pengelolaan bendungan bukan sekadar membuka atau menutup pintu air ketika debit meningkat. Operasi bendungan dilaksanakan berdasarkan Pedoman Operasi Waduk yang disusun dengan mempertimbangkan kondisi hidrologi, hidrometeorologi, prakiraan curah hujan, debit masuk (inflow), debit keluar (outflow), elevasi muka air waduk, kapasitas tampungan, kapasitas pelimpah (spillway), serta aspek keselamatan bendungan.

Seluruh parameter tersebut dipantau secara berkala oleh operator agar keputusan operasi dapat dilakukan secara tepat waktu dan tetap menjaga keamanan bendungan maupun masyarakat di wilayah hilir.

Sebagai contoh, pada Bendungan Lahor yang dikelola oleh Perum Jasa Tirta I, pemantauan kondisi waduk dilakukan secara berkesinambungan untuk menentukan pola operasi yang paling sesuai dengan kondisi aktual. Selain mempertimbangkan kondisi waduk, operator juga memperhatikan prakiraan cuaca dan kemampuan sungai di wilayah hilir dalam menerima aliran air.

Apabila prakiraan menunjukkan potensi hujan dengan intensitas tinggi, pelepasan air dapat dilakukan secara bertahap sesuai pedoman operasi. Langkah ini bertujuan menyediakan ruang tampungan yang memadai agar waduk mampu menahan limpasan air berikutnya. Dengan cara tersebut, debit yang mengalir ke hilir tetap berada dalam batas yang lebih terkendali sehingga risiko banjir dapat dikurangi.

Selain pintu pengeluaran, bendungan juga dilengkapi dengan pelimpah (spillway) sebagai komponen pengaman. Pada Bendungan Lahor, pelimpah yang digunakan merupakan pelimpah bebas tanpa pintu. Ketika elevasi muka air melampaui mercu pelimpah, air akan mengalir secara otomatis tanpa memerlukan pengoperasian manual. Sistem ini dirancang untuk mencegah terjadinya overtopping sekaligus menjaga keselamatan bendungan apabila volume air terus meningkat.

Dalam praktiknya, pengelolaan bendungan dilakukan oleh pemerintah maupun badan usaha sesuai kewenangannya. Melalui operasi waduk yang adaptif, berbasis data, dan mengikuti pedoman operasi, bendungan dapat menjalankan berbagai fungsi secara seimbang, mulai dari pengendalian banjir, penyediaan air baku, irigasi, pembangkit listrik tenaga air, hingga mendukung pengelolaan sumber daya air secara terpadu.

Mengapa Bendungan Berperan dalam Pencegahan Banjir?

Bendungan menjadi salah satu komponen penting dalam sistem pengendalian banjir karena mampu mengatur pola aliran air dari daerah hulu menuju wilayah hilir. Saat curah hujan meningkat dan debit sungai mengalami lonjakan, bendungan tidak bertujuan menghentikan aliran air sepenuhnya, melainkan menahan sebagian volume air untuk sementara sehingga debit yang mengalir ke hilir tetap berada pada kapasitas sungai.

Prinsip inilah yang dikenal sebagai pengurangan debit puncak banjir (flood peak reduction). Dengan menampung sebagian limpasan di waduk, debit maksimum yang mengalir ke hilir menjadi lebih kecil dibandingkan jika seluruh air langsung mengalir tanpa pengendalian. Selain menurunkan besarnya debit, bendungan juga dapat memperlambat waktu datangnya puncak banjir (flood peak delay), sehingga sungai memiliki waktu lebih panjang untuk mengalirkan air secara bertahap.

Manfaat tersebut sangat penting, terutama pada kawasan dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi atau wilayah yang memiliki aktivitas ekonomi besar. Ketika debit sungai dapat dikendalikan, risiko meluapnya air ke permukiman, fasilitas umum, kawasan industri, maupun lahan pertanian dapat dikurangi.

Keberadaan bendungan juga memberikan manfaat jangka panjang terhadap keberlangsungan aktivitas masyarakat. Infrastruktur jalan, jembatan, jaringan irigasi, instalasi air baku, hingga fasilitas pelayanan publik menjadi lebih terlindungi dari kerusakan akibat banjir. Dengan demikian, aktivitas ekonomi, distribusi logistik, dan pelayanan kepada masyarakat dapat tetap berjalan lebih stabil meskipun terjadi peningkatan curah hujan.

Di sektor pertanian, pengendalian debit air membantu mengurangi risiko kerusakan tanaman akibat genangan maupun aliran air yang terlalu deras. Pada saat yang sama, air yang tersimpan di waduk dapat dimanfaatkan kembali ketika musim kemarau sebagai sumber irigasi sehingga fungsi bendungan tidak berhenti setelah musim hujan berakhir.

Namun demikian, perlu dipahami bahwa bendungan bukanlah satu-satunya solusi pengendalian banjir. Efektivitas bendungan sangat dipengaruhi oleh kondisi daerah aliran sungai (DAS), kapasitas sungai di hilir, sistem drainase perkotaan, serta pengelolaan tata ruang. Oleh karena itu, bendungan harus menjadi bagian dari sistem pengelolaan sumber daya air yang terintegrasi agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal.

Apa Perbedaan Bendungan Penahan Air (Detention Dam) dan Bendungan Penyimpan (Storage Dam) Saat Banjir?

Secara umum, bendungan yang dimanfaatkan dalam pengelolaan sumber daya air memiliki karakteristik dan tujuan operasi yang berbeda. Dua jenis yang paling sering dibahas dalam pengendalian banjir adalah bendungan penahan air (detention dam) dan bendungan penyimpan (storage dam).

Meskipun sama-sama mampu mengurangi risiko banjir, kedua jenis bendungan tersebut memiliki fungsi utama yang berbeda.

Bendungan Penahan Air (Detention Dam)

Bendungan penahan air dirancang khusus untuk menahan limpasan air ketika terjadi hujan lebat atau banjir. Waduk pada jenis bendungan ini umumnya berada dalam kondisi relatif kosong atau hanya menampung sedikit air pada kondisi normal sehingga memiliki ruang yang cukup untuk menerima limpasan ketika debit sungai meningkat.

Setelah kondisi banjir mereda, air yang telah ditampung akan dialirkan kembali secara bertahap hingga ruang tampungan kembali siap digunakan menghadapi kejadian banjir berikutnya. Dengan karakteristik tersebut, fungsi utama detention dam adalah mengurangi debit puncak banjir, bukan menyimpan air sebagai cadangan jangka panjang.

Bendungan Penyimpan (Storage Dam)

Berbeda dengan detention dam, bendungan penyimpan memiliki fungsi yang lebih luas. Waduk pada jenis ini menyimpan air sepanjang tahun untuk memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat, seperti penyediaan air baku, irigasi pertanian, pembangkit listrik tenaga air (PLTA), perikanan, hingga pengendalian banjir.

Karena memiliki banyak fungsi, operasi storage dam dilakukan secara lebih kompleks. Pengelola waduk harus menjaga keseimbangan antara kebutuhan penyimpanan air dan ruang tampungan yang diperlukan untuk menghadapi musim hujan. Oleh sebab itu, pola operasi waduk selalu disesuaikan dengan kondisi hidrologi, prakiraan cuaca, serta kebutuhan pemanfaatan air di wilayah layanan.

Menjelang musim hujan atau ketika terdapat potensi peningkatan curah hujan, pengelola dapat melakukan pelepasan air secara terkendali sesuai pedoman operasi. Langkah ini bertujuan menyediakan ruang tampungan yang cukup agar waduk tetap mampu menahan sebagian limpasan air ketika debit sungai meningkat.

Perbandingan Bendungan Penahan Air dan Bendungan Penyimpan

Aspek

Bendungan Penahan Air (Detention Dam)

Bendungan Penyimpan (Storage Dam)

Tujuan utama

Mengurangi debit puncak banjir dengan menahan limpasan sementara.

Menyimpan air untuk berbagai kebutuhan sekaligus membantu pengendalian banjir.

Pola penyimpanan air

Air ditampung sementara saat banjir, kemudian dilepas kembali setelah kondisi membaik.

Air disimpan sepanjang tahun sesuai pola operasi waduk.

Kondisi waduk

Umumnya memiliki ruang tampungan yang kosong pada kondisi normal agar siap menerima limpasan banjir.

Sebagian besar waktu berisi air dengan elevasi yang diatur sesuai kebutuhan operasional.

Pemanfaatan air

Berfokus pada mitigasi banjir.

Digunakan untuk air baku, irigasi, PLTA, konservasi sumber daya air, serta pengendalian banjir.

Pola operasi

Menitikberatkan pada pengurangan debit puncak banjir.

Menyeimbangkan antara kebutuhan penyimpanan air dan kapasitas tampungan untuk pengendalian banjir.

 

Melalui perbedaan tersebut dapat dipahami bahwa tidak semua bendungan memiliki fungsi yang sama. Bendungan penyimpan, seperti yang banyak dioperasikan untuk mendukung pengelolaan sumber daya air di Indonesia, dirancang untuk memberikan manfaat yang lebih luas dibandingkan sekadar mengurangi risiko banjir.

Karena itu, pengoperasian bendungan penyimpan memerlukan perencanaan yang matang dan pemantauan secara terus-menerus. Setiap keputusan mengenai pelepasan maupun penyimpanan air harus mempertimbangkan kondisi hidrologi, keselamatan bendungan, serta kebutuhan masyarakat yang bergantung pada ketersediaan air.

Apakah Infrastruktur Bendungan Saja Cukup Menahan Banjir Tanpa Konservasi Lingkungan?

Bendungan merupakan salah satu infrastruktur penting dalam pengendalian banjir, tetapi keberadaannya tidak dapat bekerja secara optimal tanpa didukung kondisi daerah aliran sungai (DAS) yang tetap terjaga. Pengendalian banjir yang efektif memerlukan pendekatan terpadu, yaitu menggabungkan pengelolaan bendungan dengan upaya konservasi lingkungan, pengendalian erosi, serta pengelolaan tata ruang yang berkelanjutan.

Daerah tangkapan air memiliki peran sebagai “penyangga alami” sebelum air hujan mengalir menuju sungai dan waduk. Kawasan hutan yang masih terjaga mampu memperlambat aliran permukaan, meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah, serta mengurangi besarnya limpasan yang langsung menuju sungai. Sebaliknya, apabila tutupan vegetasi berkurang akibat alih fungsi lahan, air hujan akan lebih cepat mengalir ke badan sungai sehingga meningkatkan potensi banjir di wilayah hilir.

Kawasan hutan dan daerah tangkapan air di sekitar Bendungan Lahor yang berperan dalam konservasi DAS, menjaga kapasitas tampungan waduk, serta mendukung pengendalian banjir.

Kerusakan daerah tangkapan air juga mempercepat proses erosi. Material tanah yang terbawa aliran air akan masuk ke sungai dan akhirnya mengendap di waduk. Sedimentasi yang terus berlangsung dapat mengurangi kapasitas tampungan efektif waduk sehingga kemampuan bendungan dalam mengendalikan banjir maupun menyediakan cadangan air akan menurun apabila tidak diimbangi dengan pengelolaan daerah hulu yang baik.

Karena itu, upaya konservasi lahan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengelolaan sumber daya air. Rehabilitasi hutan, penanaman vegetasi di kawasan hulu, pengendalian erosi, serta perlindungan daerah resapan air membantu menjaga keseimbangan hidrologi sekaligus memperpanjang usia layanan bendungan.

Selain aspek lingkungan, masyarakat juga memiliki peran penting dalam menjaga fungsi bendungan. Kebiasaan membuang sampah ke sungai dapat menghambat aliran air, mempercepat pendangkalan, serta mengganggu kinerja bangunan pengatur air di sepanjang sungai maupun waduk. Oleh sebab itu, menjaga kebersihan sungai merupakan bagian dari upaya bersama dalam mengurangi risiko banjir.

Pengelolaan bendungan yang didukung oleh konservasi daerah aliran sungai, pemeliharaan infrastruktur, serta partisipasi masyarakat akan menghasilkan sistem pengendalian banjir yang lebih efektif dan berkelanjutan. Kolaborasi tersebut memastikan bendungan dapat menjalankan fungsinya secara optimal, tidak hanya sebagai pengendali banjir, tetapi juga sebagai penyedia air baku, pendukung irigasi, pembangkit listrik tenaga air, dan penjaga keberlanjutan sumber daya air.

Kesimpulan

Cara kerja bendungan dalam pencegahan banjir pada dasarnya adalah mengatur aliran air agar debit yang mengalir ke wilayah hilir tetap berada dalam kapasitas sungai. Melalui proses penampungan sementara di waduk dan pelepasan air secara terkendali sesuai Pedoman Operasi Waduk, bendungan membantu mengurangi debit puncak banjir sekaligus memperlambat waktu datangnya aliran puncak ke wilayah hilir.

Dalam pelaksanaannya, operasi bendungan tidak dilakukan secara sederhana melalui pembukaan atau penutupan pintu air semata. Pengelola bendungan mempertimbangkan berbagai parameter teknis, mulai dari kondisi hidrologi dan hidrometeorologi, prakiraan cuaca, debit masuk (inflow), debit keluar (outflow), elevasi muka air waduk, kapasitas tampungan, hingga aspek keselamatan bendungan. Pendekatan berbasis data tersebut memastikan setiap keputusan operasi tetap mengutamakan keamanan masyarakat dan keandalan infrastruktur.

Namun demikian, bendungan bukan satu-satunya solusi untuk mengatasi banjir. Efektivitasnya sangat dipengaruhi oleh kondisi daerah aliran sungai, kapasitas sungai di hilir, sistem drainase, serta keberhasilan konservasi lingkungan. Oleh karena itu, pengendalian banjir yang berkelanjutan memerlukan sinergi antara pengelolaan bendungan, pelestarian daerah tangkapan air, dan partisipasi masyarakat dalam menjaga fungsi sungai.

Dengan pengelolaan yang tepat dan didukung konservasi lingkungan, bendungan dapat memberikan manfaat yang luas, tidak hanya dalam mengurangi risiko banjir, tetapi juga dalam mendukung ketahanan air, irigasi, pembangkit listrik tenaga air, serta keberlanjutan sumber daya air bagi masyarakat.

 

PJT I Gerak Cepat, Upayakan Pemulihan Kualitas Air Kali Surabaya

PJT I Gerak Cepat, Upayakan Pemulihan Kualitas Air Kali Surabaya

SURABAYA, 6 September 2026 –Perum Jasa Tirta I (PJT I) melakukan sejumlah langkah penanganan menyusul terjadinya penurunan kualitas air di Kali Surabaya yang ditandai dengan munculnya busa putih pada permukaan aliran sungai.

Sebagai langkah awal, PJT I telah melakukan penambahan debit air dari Bendung Mlirip, dari sebelumnya sekitar 20 m³/detik menjadi 25 m³/detik sejak Sabtu (5/9) malam pukul 21.00 WIB. Penambahan debit tersebut dilakukan untuk membantu proses penggelontoran dan mempercepat perbaikan kondisi kualitas air di Kali Surabaya. Untuk menjaga kecukupan air sekaligus mendukung proses pemulihan kualitas air Kali Surabaya, PJT I melakukan pengaturan tambahan pasokan air dari hulu WS Brantas melalui sistem Waduk Sutami.

Selain pengaturan debit, petugas PJT I juga melakukan pengambilan sampel kualitas air pada lima titik pemantauan, yakni Hulu Kali Tengah, Muara Kali Tengah, intake Karangpilang, Gunungsari, dan intake Ngagel. Pengambilan sampel dilakukan guna memantau kondisi dan mengetahui perkembangan kualitas air di sepanjang aliran.

Kepala Sub Divisi Pengelolaan SDA WS Brantas 3 Perum Jasa Tirta I, Agung Wicaksono, menyampaikan bahwa PJT I terus melakukan pemantauan kondisi di lapangan sekaligus pengaturan tata air secara intensif untuk mendukung percepatan pemulihan kualitas air Kali Surabaya.

“ Sejak menerima informasi adanya penurunan kualitas air di Kali Surabaya, kami langsung sigap melakukan sejumlah langkah operasional sebagai bagian dari upaya pengelolaan sumber daya air. Debit dari Mlirip ditingkatkan dari 20 m³/detik menjadi 25 m³/detik untuk membantu penggelontoran. Di saat yang sama, tim kami melakukan pengambilan sampel dan pemantauan kualitas air pada lima titik,” ujar Agung.

Sebagai bagian dari pengaturan aliran, Pintu Air (PA) Wonokromo juga ditutup sementara untuk mengendalikan agar aliran yang terdampak tidak masuk ke Kali Mas dan diarahkan melalui Kali Wonokromo.

Berdasarkan informasi awal yang dihimpun dari lapangan dan pemberitaan terkait kejadian tersebut, penurunan kualitas air Kali Surabaya diduga berkaitan dengan dampak kegiatan pemadaman kebakaran yang terjadi di salah satu gudang penyimpanan bahan baku di kawasan industri Driyorejo pada Jumat (4/9). Dalam proses pemadaman kebakaran tersebut diketahui digunakan foam atau bahan pemadam berbusa. Mengingat lokasi kejadian berada di sekitar aliran Kali Tengah yang bermuara ke Kali Surabaya, PJT I melakukan pemantauan dan pengambilan sampel kualitas air untuk memastikan keterkaitan serta perkembangan kondisi kualitas air.

PJT I akan terus melakukan koordinasi dengan para pemangku kepentingan terkait serta mengoptimalkan pengaturan tata air guna mendukung percepatan pemulihan kualitas air Kali Surabaya dan menjaga keberlangsungan pemanfaatan air baku bagi masyarakat.

——————————————————-

Sub Divisi Komunikasi Korporat dan Umum

 

Bendungan Lahor Sejarah, Pembangunan, dan Spesifikasi Bendungan Strategis di DAS Brantas

Bendungan Lahor: Sejarah, Pembangunan, dan Spesifikasi Bendungan Strategis di DAS Brantas

Bendungan Lahor menyimpan sejarah panjang yang berkaitan erat dengan pembangunan nasional Indonesia pasca kemerdekaan, perkembangan teknologi bendungan, hingga kerja sama internasional yang menjadi fondasi pembangunan infrastruktur modern di Indonesia.

Foto udara Bendungan Lahor di Kabupaten Malang dengan waduk dan kawasan puncak bendungan.
Bendungan Lahor di Kabupaten Malang menjadi bagian penting dalam sistem pengelolaan sumber daya air di DAS Brantas. (Sumber : jasatirta1.co.id)

Ketika membahas bendungan besar di Jawa Timur, orang biasanya akan langsung mengingat Bendungan Sutami di Karangkates. Padahal, tidak jauh dari sana berdiri Bendungan Lahor yang memiliki peran sama pentingnya dalam sistem pengelolaan air Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas.

Terletak di Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Bendungan Lahor merupakan salah satu infrastruktur sumber daya air yang menjadi tulang punggung pengendalian banjir, penyediaan air irigasi, hingga mendukung pembangkit listrik tenaga air. Keberadaannya bukan sekadar membendung aliran Sungai Lahor, tetapi menjadi bagian dari sistem pengelolaan air terpadu yang telah dirancang sejak puluhan tahun lalu.

Hingga kini, Bendungan Lahor masih memegang peranan strategis bagi masyarakat Jawa Timur. Selain fungsi teknisnya, kawasan bendungan juga berkembang menjadi ruang publik yang dimanfaatkan sebagai destinasi wisata, pusat aktivitas ekonomi masyarakat, hingga jalur penghubung antardaerah.

Di balik manfaat tersebut, Bendungan Lahor menyimpan sejarah panjang yang berkaitan erat dengan pembangunan nasional Indonesia pasca kemerdekaan, perkembangan teknologi bendungan, hingga kerja sama internasional yang menjadi fondasi pembangunan infrastruktur modern di Indonesia.

Sejarah Bendungan Lahor

Pembangunan Bendungan Lahor tidak dapat dipisahkan dari sejarah besar pengembangan DAS Brantas. Pada era setelah Perang Dunia II, Indonesia mulai membangun berbagai infrastruktur strategis untuk mendukung ketahanan pangan, pengendalian banjir, dan penyediaan energi.

Foto historis pembangunan bangunan pelimpah Bendungan Lahor pada era 1970-an
Pembangunan bangunan pelimpah Bendungan Lahor pada tahap konstruksi proyek pada era 1970-an. (Dok. Arsip Perum Jasa Tirta I)

Awalnya Direncanakan Menjadi Satu Bendungan

Pada tahap perencanaan awal, pemerintah sebenarnya ingin membangun satu bendungan besar yang membendung Sungai Brantas sekaligus Sungai Lahor di kawasan Pohgajih, Kabupaten Blitar.

Inspeksi terowongan pengelak Bendungan Lahor sebelum pengalihan aliran Kali Lahor.
Inspeksi terowongan pengelak (diversion tunnel) sebelum dilakukan pengalihan aliran Kali Lahor dalam proses pembangunan Bendungan Lahor. (Dok. Arsip Perum Jasa Tirta I)

Namun, hasil penyelidikan geologi menunjukkan bahwa kawasan tersebut didominasi batuan kapur dengan tingkat porositas tinggi. Kondisi tersebut dinilai berisiko terhadap keamanan bendungan karena berpotensi menyebabkan rembesan air pada fondasi.

Akhirnya, desain proyek diubah. Sungai Brantas dibendung di Karangkates melalui Bendungan Sutami, sedangkan Sungai Lahor dibendung secara terpisah melalui Bendungan Lahor. Keputusan tersebut justru menghasilkan sistem pengelolaan air yang lebih fleksibel dan efisien.

Dibangun pada Era 1970-an

Pembangunan Bendungan Lahor dimulai pada Mei 1973 dan selesai pada tahun 1977. Proyek ini merupakan bagian dari Karangkates Dam Extension (Lahor Dam) dan termasuk salah satu pembangunan bendungan besar di Indonesia pada masanya, dengan nilai investasi sekitar 11,712 miliar Yen Jepang.

Dalam rangkaian pembangunan DAS Brantas, sumber pembiayaan setiap proyek tidak selalu sama. Sejumlah proyek memperoleh dukungan Japanese Reparations (JR) atau dana pampasan perang Jepang. Sementara itu, Karangkates Dam Extension atau Bendungan Lahor memperoleh dukungan pembiayaan melalui Overseas Economic Cooperation Fund (OECF) bersama Pemerintah Indonesia. Proyek ini juga berkaitan dengan pembangunan tambahan fasilitas pembangkitan listrik di kompleks Karangkates.

Proyek pembangunan melibatkan kolaborasi antara pemerintah Indonesia dan berbagai perusahaan Jepang. Perencanaan dilakukan oleh Proyek Brantas bersama konsultan Nippon Koei, sementara beberapa komponen mekanik dan baja dipasok oleh perusahaan-perusahaan industri Jepang.

Setelah seluruh konstruksi selesai, Bendungan Lahor diresmikan pada 12 November 1977 oleh Presiden Soeharto. Empat tahun kemudian, kompleks bendungan utama Karangkates secara resmi diberi nama Bendungan Sutami sebagai bentuk penghormatan atas jasa beliau dalam pembangunan infrastruktur sumber daya air Indonesia.

Penandatanganan prasasti peresmian proyek Bendungan Lahor pada November 1977.
Presiden Soeharto menandatangani prasasti peresmian proyek Bendungan Lahor pada 12 November 1977. (Dok. Arsip Perum Jasa Tirta I)

Melahirkan Generasi Insinyur Indonesia

Salah satu dampak penting dari pembangunan Bendungan Lahor adalah proses transfer teknologi kepada para insinyur Indonesia.

Melalui Proyek Brantas, banyak tenaga teknik nasional memperoleh pengalaman langsung dalam merancang dan membangun bendungan berskala besar. Pengalaman tersebut kemudian menjadi modal lahirnya PT Brantas Abipraya (Persero) pada tahun 1980.

BUMN ini berkembang menjadi salah satu perusahaan konstruksi nasional yang berperan dalam pembangunan berbagai bendungan besar di Indonesia. Dengan kata lain, warisan Bendungan Lahor bukan hanya berupa infrastruktur fisik, tetapi juga peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang konstruksi dan teknik sipil.

Spesifikasi Teknis Bendungan

Dari sisi rekayasa teknik, Bendungan Lahor dirancang untuk menghadapi kondisi hidrologi dan geologi di wilayah Jawa Timur yang memiliki curah hujan tinggi sekaligus berada di kawasan rawan gempa.

Karena itu, bendungan ini menggunakan tipe urugan batu (rock fill dam). Dibandingkan bendungan beton, tipe urugan batu memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menyesuaikan diri terhadap pergerakan tanah serta lebih tahan terhadap aktivitas seismik.

Desain tersebut menjadi pilihan yang tepat mengingat Indonesia berada di kawasan Ring of Fire yang memiliki aktivitas tektonik cukup tinggi.

Dimensi Bendungan

Secara fisik, Bendungan Lahor memiliki ukuran yang cukup besar.

Beberapa spesifikasi utamanya meliputi:

Spesifikasi

Keterangan

Tipe bendungan

Urugan batu (Rock Fill Dam)

Tinggi bendungan

74 meter

Panjang mercu

433 meter

Lebar mercu

10 meter

Volume material urugan

±1,69 juta m³

Elevasi muka air tinggi (HWL)

+272,70 meter

Elevasi muka air rendah (LWL)

+253,00 meter

Sumber: Jasa Tirta I, Sutami Lahor Dam, hlm. 4. 

Dimensi tersebut memungkinkan Bendungan Lahor menampung jutaan meter kubik air yang nantinya dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pengendalian banjir hingga suplai air bagi sektor pertanian dan pembangkit listrik.

Sistem Tampungan Air

Dalam operasionalnya, waduk Bendungan Lahor dibagi ke dalam beberapa zona tampungan yang memiliki fungsi berbeda.

Ilustrasi pembagian zona tampungan waduk yang menunjukkan tampungan mati (dead storage), tampungan efektif (useful storage), dan tampungan banjir (flood storage) berdasarkan elevasi muka air waduk. (Sumber: Dokumen ilustrasi teknis)

Zona paling bawah disebut dead storage atau tampungan mati. Area ini memang disediakan sebagai tempat mengendapnya sedimen sehingga tidak mengganggu kapasitas tampungan utama.

Di atasnya terdapat tampungan efektif, yaitu volume air yang dapat dimanfaatkan untuk operasional sehari-hari, baik untuk pengendalian banjir maupun distribusi air.

Sementara itu, bagian paling atas difungsikan sebagai Flood Control Pool, yakni ruang khusus yang sengaja disediakan untuk menampung debit air saat terjadi hujan ekstrem. Dengan adanya ruang ini, bendungan mampu mengurangi risiko banjir di wilayah hilir.

Pembagian zona tampungan tersebut merupakan salah satu prinsip penting dalam pengelolaan bendungan modern karena memungkinkan air dikelola secara lebih aman dan efisien.

Saluran Pelimpah

Agar bendungan tetap aman saat debit sungai meningkat drastis, Bendungan Lahor dilengkapi dengan saluran pelimpah (spillway) tipe Ogee tanpa pintu (non-gate overflow weir).

Saluran pelimpah ini memiliki panjang sekitar 375 meter dengan lebar bervariasi antara 8 hingga 35 meter.

Fungsi spillway sangat penting karena menjadi jalur pembuangan air apabila kapasitas waduk mulai mendekati batas maksimum. Dengan demikian, air tidak melimpas melewati puncak bendungan yang berpotensi membahayakan struktur utama.

Terhubung Langsung dengan Bendungan Sutami

Salah satu keunikan Bendungan Lahor dibandingkan bendungan lain di Indonesia adalah keberadaan terowongan bawah tanah sepanjang sekitar 822 meter yang menghubungkannya dengan Bendungan Sutami.

Melalui terowongan tersebut, air dari Waduk Lahor dialirkan menuju sistem PLTA Sutami sehingga kedua bendungan dapat bekerja sebagai satu kesatuan sistem pengelolaan air.

Konsep ini memungkinkan pemanfaatan air menjadi lebih efisien, baik untuk kebutuhan pembangkitan listrik maupun pengaturan debit Sungai Brantas secara keseluruhan. Hingga kini, sistem interkoneksi tersebut masih menjadi salah satu inovasi penting dalam pengelolaan sumber daya air di Indonesia.

Peran Bendungan Lahor bagi Masyarakat dan Lingkungan

Sejak mulai beroperasi pada tahun 1977, fungsi Bendungan Lahor adalah sebagai bangunan pengendali air sekaligus infrastruktur strategis yang menopang berbagai sektor kehidupan di Jawa Timur. Mulai dari pengendalian banjir, penyediaan air irigasi, hingga mendukung pembangkit listrik tenaga air, seluruh fungsi tersebut saling terintegrasi dalam sistem pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas.

Di sisi lain, keberadaan bendungan juga membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar. Kawasan yang awalnya hanya berfungsi sebagai infrastruktur kini berkembang menjadi pusat wisata, aktivitas ekonomi, hingga ruang publik yang dimanfaatkan setiap hari oleh warga.

Fungsi Teknis Bendungan Lahor

1. Mengurangi Risiko Banjir di Hilir DAS Brantas

Salah satu tujuan utama pembangunan Bendungan Lahor adalah mengendalikan debit air Sungai Lahor sebelum bergabung dengan Sungai Brantas.

Pada musim hujan, debit sungai dapat meningkat secara signifikan akibat tingginya curah hujan di wilayah hulu. Tanpa adanya bendungan, lonjakan debit tersebut berpotensi menyebabkan banjir yang menggenangi kawasan permukiman, lahan pertanian, hingga infrastruktur publik.

Melalui kapasitas tampungan yang dimiliki, Bendungan Lahor mampu menahan sementara air hujan dan mengatur pelepasannya secara bertahap. Sistem ini membuat debit air yang mengalir ke hilir menjadi lebih stabil sehingga risiko banjir dapat ditekan.

Berdasarkan data pengelolaan bendungan, kapasitas pengendalian banjir Bendungan Lahor mampu menurunkan debit banjir dari sekitar 790 meter kubik per detik menjadi sekitar 150 meter kubik per detik, sehingga membantu melindungi kawasan hilir DAS Brantas dari dampak banjir musiman.

2. Menyediakan Air Irigasi

Selain mengendalikan banjir, Bendungan Lahor juga menjadi sumber air penting bagi sektor pertanian.

Air yang tersimpan di waduk dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan irigasi, terutama ketika memasuki musim kemarau. Dengan adanya pasokan air yang lebih stabil, petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada curah hujan.

Keberadaan bendungan membantu mengairi sekitar 1.100 hektare lahan pertanian di sekitarnya. Bahkan melalui sistem pengelolaan terpadu bersama Bendungan Sutami, suplai air juga berkontribusi terhadap pengairan lebih dari 34.000 hektare lahan pertanian di wilayah hilir DAS Brantas.

Manfaat ini berpengaruh langsung terhadap peningkatan produktivitas pertanian karena petani memiliki kesempatan melakukan panen lebih dari satu kali dalam setahun.

3. Mendukung Operasional PLTA Sutami

Keunikan Bendungan Lahor terletak pada sistem interkoneksinya dengan Bendungan Sutami.

Air dari Waduk Lahor dialirkan melalui terowongan bawah tanah sepanjang sekitar 822 meter menuju sistem Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sutami.

Melalui sistem tersebut, Bendungan Lahor mendukung operasi PLTA Sutami yang memiliki kapasitas terpasang 105 MW atau tiga unit turbin berkapasitas masing-masing 35 MW.

Energi listrik yang dihasilkan menjadi bagian dari sistem kelistrikan Jawa-Bali dan berperan penting dalam memenuhi kebutuhan listrik, terutama saat terjadi lonjakan konsumsi pada jam-jam beban puncak.

4. Menyuplai Air Baku untuk PDAM

Fungsi penting lainnya adalah sebagai penyedia air baku.

Air yang tersimpan di Bendungan Lahor dimanfaatkan sebagai sumber air untuk Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) melalui perusahaan daerah air minum (PDAM). Dengan adanya pasokan ini, kebutuhan air bersih masyarakat di sejumlah wilayah dapat terpenuhi secara lebih berkelanjutan, termasuk ketika musim kemarau berlangsung lebih panjang dari biasanya.

Fungsi Sosial Bendungan Lahor

Selain memberikan manfaat dari sisi teknis, Bendungan Lahor juga memiliki nilai sosial dan ekonomi yang terus berkembang sejak pertama kali beroperasi.

1. Menjadi Destinasi Taman Wisata Lahor

Panorama waduk yang dikelilingi perbukitan hijau menjadikan kawasan Bendungan Lahor berkembang sebagai destinasi wisata keluarga.

Saat ini kawasan tersebut dikenal sebagai Taman Wisata Lahor, yang menawarkan berbagai fasilitas rekreasi seperti:

  • area bermain anak
  • gazebo
  • area outbound
  • penyewaan perahu
  • banana boat
  • speed boat
  • camping ground
  • spot fotografi
  • Paddling 

Suasana yang tenang membuat kawasan ini menjadi pilihan wisata alam bagi masyarakat Malang maupun wisatawan dari daerah lain.

2. Jalur Pintas bagi Komuter

Mercu Bendungan Lahor juga dimanfaatkan sebagai jalur penghubung antara wilayah Kabupaten Malang dan Kabupaten Blitar.

Keberadaan jalur tersebut memangkas waktu tempuh masyarakat secara signifikan dibandingkan harus memutar melalui jalan utama.

Bagi warga sekitar, akses ini membantu mempercepat mobilitas sehari-hari, baik untuk bekerja, berdagang, maupun mengakses fasilitas pendidikan dan layanan publik.

Sebagai bagian dari pelestarian infrastruktur vital, akses melintas di Puncak Bendungan Lahor kini dibatasi secara bertahap. Langkah preventif ini diambil demi keselamatan kawasan, mengingat getaran lalu lintas berpotensi mempengaruhi struktur timbunan dan instrumen pemantauan sensitif di area bendungan.

3. Mendorong Pertumbuhan UMKM

Berkembangnya kawasan wisata turut membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.

Banyak warga yang kini membuka usaha kuliner, warung makan, kios oleh-oleh, hingga penyewaan peralatan rekreasi di sekitar bendungan.

Aktivitas tersebut menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat sekaligus memperkuat pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di kawasan Karangkates dan sekitarnya.

Keberadaan Bendungan Lahor membuktikan bahwa pembangunan infrastruktur juga mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian lokal.

4. Sentra Perikanan dan Memancing

Waduk Bendungan Lahor juga menjadi habitat berbagai jenis ikan air tawar.

Masyarakat memanfaatkan kawasan ini untuk budidaya ikan melalui keramba maupun kegiatan perikanan tangkap. Selain itu, bendungan juga dikenal sebagai salah satu lokasi favorit bagi penghobi memancing.

Beberapa jenis ikan yang banyak dijumpai antara lain nila, mujair, gurami, tombro, lele, dan bader.

Aktivitas perikanan tersebut memberikan nilai ekonomi tambahan sekaligus menjadi daya tarik wisata berbasis alam.

Pengelolaan Bendungan Lahor oleh Perum Jasa Tirta I

Sebagai salah satu infrastruktur strategis di Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, Bendungan Lahor dikelola oleh Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta I. BUMN ini mendapat penugasan dari pemerintah untuk melaksanakan sebagian tugas dan tanggung jawab dalam pengelolaan sumber daya air pada wilayah kerjanya dengan tetap memperhatikan fungsi sosial serta kelestarian lingkungan.

Dasar Hukum Pengelolaan

Pengelolaan Bendungan Lahor oleh Perum Jasa Tirta I memiliki landasan hukum yang jelas. Salah satunya adalah Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2010 tentang Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta I, yang mengatur tugas dan fungsi perusahaan dalam pengelolaan sumber daya air. Regulasi ini juga menjadi dasar bagi pemerintah dalam menetapkan maupun memperluas wilayah kerja Perum Jasa Tirta I.

Cakupan Tugas Pengelolaan

Dalam menjalankan pengelolaan Bendungan Lahor, Perum Jasa Tirta I tidak hanya bertanggung jawab menjaga kondisi fisik bendungan, tetapi juga memastikan seluruh fungsi bendungan dapat berjalan secara optimal.

Secara umum, pengelolaan tersebut meliputi:

  • mengatur tinggi muka air waduk sesuai kebutuhan operasional;
  • mengendalikan pelepasan debit air untuk mendukung pengendalian banjir dan distribusi air;
  • melakukan inspeksi rutin terhadap struktur bendungan serta peralatan pendukung;
  • melaksanakan operasi dan pemeliharaan (operation and maintenance) agar bendungan tetap aman dan andal;
  • mengendalikan sedimentasi melalui kegiatan pemeliharaan dan konservasi daerah tangkapan air; serta
  • mendukung pemanfaatan air untuk irigasi, penyediaan air baku, pembangkit listrik tenaga air, dan kebutuhan masyarakat lainnya.

Dalam praktiknya, pengelolaan Bendungan Lahor juga mengedepankan prinsip pengelolaan sumber daya air yang terpadu dan berkelanjutan. Artinya, bendungan tidak hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga dijaga agar tetap mampu memberikan manfaat bagi generasi mendatang dengan memperhatikan keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan kelestarian lingkungan.

Lebih dari empat dekade sejak diresmikan, Bendungan Lahor tetap menjadi salah satu infrastruktur sumber daya air yang memiliki peran vital bagi Jawa Timur. Keberadaannya tidak hanya membantu mengendalikan banjir, menyediakan air irigasi, mendukung pembangkit listrik, dan memasok air baku, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Dengan pengelolaan yang berkelanjutan serta upaya konservasi daerah aliran sungai, Bendungan Lahor diharapkan dapat terus menjalankan fungsinya sebagai penyangga kehidupan sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan di wilayah DAS Brantas.

Langkah Baru PJT I di WS Bali-Penida, Siap Dukung Ketahanan Air Nasional

Langkah Baru PJT I di WS Bali-Penida, Siap Dukung Ketahanan Air Nasional

Denpasar – Perum Jasa Tirta I (PJT I) memperkuat kontribusinya dalam pengelolaan sumber daya air nasional melalui penugasan di Wilayah Sungai (WS) Bali-Penida. Direktur Operasional PJT I, Milfan Rantawi mengatakan, penugasan dilaksanakan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres RI) Nomor 9 Tahun 2026 yang diterbitkan 22 April 2026.

“Kehadiran PJT I di WS Bali-Penida ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pengelolaan sumber daya air yang terpadu, berkelanjutan dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta perkembangan perekonomian di Bali,” jelas Milfan, Kamis (20/8/2026).

Sebagai bagian dari tahapan awal pelaksanaan penugasan, pihaknya bersama Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) telah menyelenggarakan Sosialisasi Keppres Nomor 9 Tahun 2026 untuk WS Bali-Penida pada 30 Juni 2026. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan tugas dan peran PJT I sekaligus membangun koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida, pemerintah daerah, pengguna SDA, masyarakat, serta pemangku kepentingan lainnya.

VP Regional III PJT I, Didik Ardianto mengungkapkan, pengelolaan sumber daya air di WS Bali-Penida menghadapi tantangan hidrologis yang signifikan. Hal itu terjadi akibat fluktuasi ketersediaan air antara musim penghujan dan kemarau.

“Pada musim penghujan, tingginya curah hujan tahunan yang mencapai lebih dari 2.000 mm seringkali menyebabkan surplus aliran permukaan yang memicu banjir di beberapa wilayah. Kondisi ini juga menjadi semakin kompleks  dengan adanya peningkatan laju alih fungsi lahan,” ujarnya.

Dampaknya, lanjut dia, terjadi peningkatan sedimentasi dan instabilitas lahan yang mempengaruhi kapasitas drainase alami sungai. Sementara memasuki musim kemarau, tantangan beralih pada defisit neraca air yang tersebar di hampir seluruh zona di WS Bali-Penida. “Dengan tekanan terbesar berada di Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan (Zona Sarbagita) yang mengalami kekurangan air signifikan untuk pemenuhan kebutuhan domestik dan industri,” tuturnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, salah satu kegiatan pengelolaan SDA yang akan dilaksanakan oleh PJT I pada tahap awal penugasan adalah penguatan sistem hidrometeorologi melalui implementasi Smart Water Management System (SWMS). Sistem tersebut digunakan  untuk melakukan pemantauan dan prediksi hujan dan debit, sehingga nantinya diharapkan bisa menjadi decision support system yang baik bagi seluruh stakeholder pengelolaan SDA di WS Bali-Penida, sebagaimana yang telah diimplementasikan oleh PJT I di lima wilayah kerja sebelumnya.

Kepala Divisi Jasa Air dan Sumber Air WS Bali-Penida PJT I, Hamim Ghufroni mengatakan PJT I siap membawa pengalaman pengelolaan lima wilayah sungai eksisting untuk mendukung pelaksanaan penugasan di WS Bali-Penida. Salah satu fokus yang akan diperkuat adalah sistem informasi SDA melalui pengembangan SWMS dan pemanfaatan teknologi telemetri.

Dalam pelaksanaannya, PJT I juga akan memperkuat kolaborasi dengan Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA), BWS Bali-Penida, Pemerintah Provinsi Bali, pemerintah kabupaten/kota, serta pemangku kepentingan lainnya. Kolaborasi tersebut diperlukan untuk memastikan pengelolaan SDA dapat berjalan secara terpadu dan sesuai dengan kebutuhan wilayah.

“Kami akan saling bahu-membahu,  berkolaborasi dengan stakeholder terkait untuk pengelolaan SDA di WS Bali-Penida. Untuk pemenuhan air baku, PJT I akan berupaya seoptimal mungkin seperti yang dilakukan di lima WS existing,” jelasnya.

Kebutuhan air baku menjadi salah satu perhatian dalam pengelolaan WS Bali-Penida seiring dengan pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi di Bali. Air baku yang dikelola dan dimanfaatkan PJT I akan turut mendukung kebutuhan masyarakat, industri, hingga sektor pariwisata.

Selain pemenuhan kebutuhan air, PJT I juga akan mendorong upaya konservasi untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air. Konservasi menjadi penting untuk mempertahankan tutupan lahan, mencegah bertambahnya lahan kritis, serta meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap air hujan.

“Kegiatan konservasi tentunya juga perlu kita galakkan supaya lahan kritis tidak bertambah. Air hujan yang turun tidak langsung mengalir ke sungai kemudian ke laut, tetapi semakin banyak yang diserap ke tanah dan menjadi imbuhan air,” pungkas Hamim.

Dalam menjalankan penugasan tersebut, PJT I mengacu pada lima pilar pengelolaan sumber daya air, yaitu konservasi, pendayagunaan, pengendalian daya rusak air, pengembangan sistem informasi sumber daya air, serta pemberdayaan dan peran serta masyarakat.

Berbekal pengalaman selama 36 tahun dalam pengelolaan sumber daya air, PJT I akan membawa kompetensi, pengalaman operasional, serta sistem pengelolaan yang telah dikembangkan perusahaan untuk mendukung pelaksanaan tugas di WS Bali-Penida.

Kehadiran PJT I di WS Bali-Penida sekaligus menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung penguatan ketahanan air nasional. Melalui pengelolaan yang terpadu dan kolaboratif, sumber daya air di Bali diharapkan dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat, mendukung keberlanjutan lingkungan dan aktivitas ekonomi, serta menjaga keseimbangan antara kebutuhan air dan daya dukung wilayah.

Perkuat Peran Strategis dalam Pengelolaan Sumber Daya Air, Perum Jasa Tirta I Hadir di Wilayah Sungai Pompengan Larona dan Saddang

Perkuat Peran Strategis dalam Pengelolaan Sumber Daya Air, Perum Jasa Tirta I Hadir di Wilayah Sungai Pompengan Larona dan Saddang

Makassar – Perum Jasa Tirta I (PJT I) memperkuat perannya dalam pengelolaan sumber daya air melalui penugasan di Wilayah Sungai (WS) Pompengan Larona dan WS Saddang, Sulawesi Selatan. Penugasan tersebut merupakan bagian dari penambahan wilayah kerja PJT I berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2026

Sebagai bagian dari tahapan awal pelaksanaan penugasan, PJT I bersama Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) telah menyelenggarakan Sosialisasi Keputusan Presiden Nomor 9 Tahun 2026 untuk Wilayah Sungai Pompengan Larona dan Saddang pada 23 Juni 2026. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan tugas dan peran PJT I sekaligus membangun koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang, pemerintah daerah, pengguna SDA, masyarakat, serta pemangku kepentingan lainnya.

Kepala Divisi Jasa ASA WS Pompengan Larona dan Saddang Perum Jasa Tirta I, mengatakan bahwa kedua wilayah sungai memiliki karakteristik yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan pengelolaan yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing wilayah. “Dua wilayah sungai di Sulawesi Selatan ini memiliki karakter yang sangat berbeda. Pola hujannya juga berbeda, sehingga pendekatan pengelolaannya perlu disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing wilayah. Karena itu, kami akan memperkuat koordinasi dan sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan agar pengelolaan sumber daya air dapat berjalan optimal dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Indra.

Salah satu perhatian penting dalam pengelolaan sumber daya air di Sulawesi Selatan adalah ketersediaan dan pengaturan alokasi air, terutama di tengah kondisi El Niño. Kondisi tersebut menjadi semakin strategis mengingat Sulawesi Selatan merupakan salah satu wilayah yang berperan sebagai lumbung beras untuk ketahanan pangan nasional.

Selain ketersediaan air, terdapat sejumlah isu lain yang menjadi perhatian dalam pengelolaan kedua wilayah sungai, antara lain sedimentasi serta upaya menjaga ekosistem sungai dan kawasan tangkapan air di bagian hulu. Pengelolaan tersebut akan dilaksanakan dengan mengacu pada lima pilar pengelolaan sumber daya air, yakni konservasi, pendayagunaan, pengendalian daya rusak air, pengembangan sistem informasi sumber daya air, serta pemberdayaan dan peran serta masyarakat.

Pada tahap awal, PJT I telah menyiapkan sejumlah kegiatan yang mencakup penyusunan kajian/ studi pengelolaan sda, rencana kegiatan intuk pengendalian serta mitigasi banjir, rehabilitasi dan konservasi lahan. Selain itu, PJT I juga akan mengaplikasikan Smart Water Management System (SWMS) untuk mendukung pengelolaan sumber daya air di WS Pompengan Larona dan WS Saddang. Dalam pelaksanaannya, PJT I juga akan memperkuat koordinasi dengan para stakeholder meliputi BBWS Pompengan Jeneberang, Pemerintah Provinsi, pemerintah kabupaten/kota, masyarakat, serta para pengguna sumber daya air. Koordinasi tersebut juga diarahkan untuk mendorong pengguna SDA yang telah maupun belum memiliki izin agar memenuhi ketentuan perizinan yang berlaku.

Berbekal pengalaman selama 36 tahun dalam pengelolaan sumber daya air, PJT I akan membawa kompetensi, pengalaman operasional, serta sistem pengelolaan yang telah dikembangkan perusahaan untuk mendukung pelaksanaan tugas di WS Pompengan Larona dan WS Saddang.

Kehadiran di kedua wilayah sungai tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen PJT I dalam mendukung kebijakan pemerintah untuk memperkuat pengelolaan sumber daya air di Indonesia. Dengan kolaborasi bersama berbagai pemangku kepentingan, pengelolaan sumber daya air diharapkan mampu menjaga keberlanjutan lingkungan, mendukung kebutuhan masyarakat dan pembangunan wilayah, sekaligus memperkuat ketahanan pangan, air, dan energi nasional.

Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta I Hadir di Wilayah Sungai (WS) Parigi Poso, Siap Kelola Sumber Daya Air

Perusahaan Umum Jasa Tirta I Hadir di Wilayah Sungai (WS) Parigi Poso, Siap Kelola Sumber Daya Air

Palu – Perum Jasa Tirta I (PJT I) mulai memperkuat kehadirannya di Wilayah Sungai (WS) Parigi–Poso, Sulawesi Tengah, menyusul penambahan wilayah kerja perusahaan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2026. PJT I menyatakan siap menjalankan amanah pengelolaan sumber daya air di wilayah tersebut secara profesional, terpadu, dan berkelanjutan.

Sebagai bagian dari tahapan awal pelaksanaan penugasan, PJT I bersama Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) telah menyelenggarakan Sosialisasi Keputusan Presiden Nomor 9 Tahun 2026 untuk Wilayah Sungai Parigi–Poso pada 2 Juli 2026. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan tugas pokok dan peran PJT I sekaligus membangun kesamaan pemahaman dengan para pengguna SDA dan pemangku kepentingan mengenai pengelolaan sumber daya air di WS Parigi–Poso.

Kepala Divisi Jasa ASA WS Parigi–Poso Perum Jasa Tirta I, Ariet Setiawan, mengatakan PJT I memerlukan kolaborasi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan agar pelaksanaan tugas dan amanah pengelolaan WS Parigi Poso dapat berjalan dengan baik.

“Kami siap menjalankan amanah pengelolaan sumber daya air di WS Parigi–Poso. Tahapan awal yang kami lakukan adalah membangun koordinasi dan sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan, sehingga pengelolaan sumber daya air ke depan dapat berjalan optimal, berkelanjutan, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” ujar Ariet.

Menurut Ariet, karakteristik setiap wilayah sungai memiliki tantangan dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, PJT I akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum, Balai Wilayah Sulawesi III, Pemerintah Daerah, Pengguna SDA, masyarakat, serta pemangku kepentingan lainnya untuk menyelaraskan pelaksanaan pengelolaan SDA dengan kondisi dan kebutuhan di WS Parigi–Poso.

Pengelolaan tersebut akan dilaksanakan dengan mengacu pada lima pilar pengelolaan sumber daya air di Indonesia, yakni konservasi, pendayagunaan, pengendalian daya rusak air, pengembangan sistem informasi sumber daya air, serta pemberdayaan dan peran serta masyarakat. Upaya tersebut juga mencakup dukungan terhadap operasi dan pemeliharaan sarana dan prasarana sumber daya air, serta optimalisasi pemanfaatan air secara berkelanjutan untuk memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat dan pembangunan.

“Kami ingin kehadiran PJT I dapat memberikan nilai tambah bagi pengelolaan sumber daya air di WS Parigi Poso. Bukan hanya melalui pengelolaan pada wilayah sungainya, tetapi juga dengan membangun kolaborasi jangka panjang untuk bersama-sama dengan Balai Wilayah Sulawesi III dan instansi terkait dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air di wilayah ini,” tambah Ariet.

Berbekal pengalaman selama 36 tahun dalam pengelolaan sumber daya air, PJT I akan membawa kompetensi, pengalaman operasional, serta sistem pengelolaan yang telah dikembangkan perusahaan untuk mendukung pelaksanaan tugas di WS Parigi Poso.

 

Kehadiran di WS Parigi Poso sekaligus menjadi bagian dari komitmen PJT I dalam mendukung kebijakan pemerintah untuk memperkuat pengelolaan sumber daya air di Indonesia. Dengan kolaborasi antar pemangku kepentingan, pengelolaan sumber daya air diharapkan mampu menjaga keberlanjutan lingkungan, mendukung kebutuhan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi wilayah, sekaligus mendorong ketahanan pangan, air, dan energi nasional.

700 Pelari Ramaikan Selorejo Run Challenge 2026, PJT I Kenalkan Waduk Selorejo sekaligus Gerakkan UMKM Lokal

700 Pelari Ramaikan Selorejo Run Challenge 2026, PJT I Kenalkan Waduk Selorejo sekaligus Gerakkan UMKM Lokal

MALANG, 9 Agustus 2026 – Sekitar 700 pelari meramaikan Selorejo Run Challenge 2026 yang digelar Perum Jasa Tirta I (PJT I) di kawasan Waduk Selorejo, Ngantang, Kabupaten Malang, Minggu (9/8/2026). Mengusung konsep “Run with View” dan semangat “JEJAK: Jaga Ekosistem, Jaga Air Kita”, kegiatan ini memadukan olahraga, wisata, edukasi lingkungan, serta kolaborasi bersama masyarakat dan pelaku UMKM di sekitar Waduk Selorejo.

Selorejo Run Challenge 2026 menjadi salah satu program unggulan PJT I dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Melalui kegiatan ini, PJT I tidak hanya menghadirkan pengalaman olahraga lintas alam, tetapi juga mengajak masyarakat mengenal lebih dekat Waduk Selorejo dan membangun kepedulian terhadap kelestarian ekosistem sumber daya air.

Selorejo Run Challenge 2026 menghadirkan dua kategori, yakni 8 kilometer dan 17 kilometer. Rute yang disiapkan membawa para peserta menyusuri kawasan Waduk Selorejo dan lingkungan sekitarnya, sehingga peserta dapat menikmati pengalaman berlari di tengah lanskap alam sekaligus mengenal lebih dekat kawasan yang menjadi bagian penting dalam pengelolaan sumber daya air.

Direktur Utama Perum Jasa Tirta I, Fahmi Hidayat, mengatakan penyelenggaraan Selorejo Run Challenge merupakan salah satu cara PJT I mendekatkan pengelolaan sumber daya air kepada masyarakat melalui kegiatan yang lebih partisipatif dan menyenangkan.

“Melalui Selorejo Run Challenge, kami ingin masyarakat tidak hanya datang untuk berlari, tetapi juga mengenal lebih dekat Waduk Selorejo dan memahami pentingnya menjaga ekosistem sumber daya air. Waduk bukan hanya infrastruktur pengelolaan air, tetapi juga bagian dari ruang kehidupan masyarakat yang perlu kita jaga bersama keberlanjutannya,” ujar Fahmi.

Menurut Fahmi, semangat tersebut diwujudkan melalui slogan JEJAK: Jaga Ekosistem, Jaga Air Kita, yang mengajak setiap peserta meninggalkan jejak positif bagi lingkungan.

“Kami ingin semangat menjaga air tidak berhenti sebagai pesan, tetapi tumbuh menjadi kesadaran bersama. Ketika masyarakat semakin mengenal suatu kawasan sumber daya air, kami berharap akan tumbuh pula rasa memiliki dan kepedulian untuk ikut menjaganya,” tambahnya.

Selain membawa pesan pelestarian lingkungan, Selorejo Run Challenge 2026 juga diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitar Waduk Selorejo. Kehadiran ratusan peserta dari berbagai komunitas turut mendorong aktivitas ekonomi di kawasan tersebut, termasuk dengan membuka ruang bagi UMKM lokal untuk terlibat dan memperoleh manfaat dari penyelenggaraan kegiatan.

Fahmi menegaskan bahwa pelibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan Selorejo Run Challenge.

“Kegiatan ini juga menjadi momentum kolaborasi PJT I dengan masyarakat. Kami ingin keberadaan event di kawasan yang kami kelola memberikan nilai tambah, termasuk bagi UMKM dan pelaku ekonomi lokal. Jadi manfaatnya bukan hanya dirasakan peserta, tetapi juga masyarakat yang hidup dan beraktivitas di sekitar Waduk Selorejo,” jelas Fahmi.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Selorejo Run Challenge 2026, Irfan Ferdiantana, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung dan berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, terselenggaranya Selorejo Run Challenge tidak terlepas dari kolaborasi berbagai pihak dalam mendukung kelancaran kegiatan.

“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan Selorejo Run Challenge 2026. Kolaborasi dan dukungan dari berbagai pihak menjadi bagian penting sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik,” ujar Irfan.

Irfan juga mengapresiasi antusiasme sekitar 700 pelari yang telah mengikuti Selorejo Run Challenge 2026. Menurutnya, tingginya partisipasi peserta menunjukkan bahwa kegiatan olahraga berbasis alam memiliki potensi besar untuk menjadi ruang kolaborasi sekaligus memperkenalkan kawasan Waduk Selorejo secara lebih luas.

“Kami juga berterima kasih kepada seluruh peserta yang telah menjadi bagian dari Selorejo Run Challenge 2026. Harapannya, pengalaman berlari di kawasan Waduk Selorejo tidak hanya memberikan kesan bagi para peserta, tetapi juga membawa pulang pesan untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan sumber daya air,” tambah Irfan.

PJT I berharap Selorejo Run Challenge dapat semakin mengenalkan Waduk Selorejo sebagai kawasan yang memiliki nilai strategis dalam pengelolaan sumber daya air sekaligus potensi wisata berbasis alam dan edukasi.

Kegiatan ini sekaligus melanjutkan pengembangan event olahraga berbasis kawasan sumber daya air yang sebelumnya telah dilakukan PJT I melalui Wonorejo Run Challenge 2025. Melalui kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, komunitas, pelaku UMKM, dan masyarakat, PJT I berupaya menghadirkan kegiatan yang memberikan dampak positif secara lingkungan, sosial, dan ekonomi.

Dengan semangat “JEJAK: Jaga Ekosistem, Jaga Air Kita”, Selorejo Run Challenge 2026 diharapkan tidak hanya meninggalkan pengalaman bagi sekitar 700 pelari yang mengikuti kegiatan, tetapi juga memperkuat kesadaran bahwa menjaga keberlanjutan sumber daya air merupakan tanggung jawab bersama.

Sub Divisi Komunikasi Korporat dan Umum
Perum Jasa Tirta I

 

Pertimbangkan Aspirasi Masyarakat, PJT I Sesuaikan Akses Kendaraan Roda Empat di Bendungan Lahor

Pertimbangkan Aspirasi Masyarakat, PJT I Sesuaikan Akses Kendaraan Roda Empat di Bendungan Lahor

MALANG – Perum Jasa Tirta I (PJT I) melakukan penyesuaian terhadap pembatasan akses kendaraan roda empat (R4) yang melintasi puncak Bendungan Lahor, Kabupaten Malang, setelah mempertimbangkan kebutuhan mobilitas masyarakat serta aspirasi yang disampaikan dalam aksi penyampaian pendapat pada 1 Agustus 2026.

Kepala Divisi Jasa ASA Wilayah Sungai Brantas Perum Jasa Tirta I, Agung Nugroho, mengatakan PJT I mendengarkan berbagai masukan yang disampaikan masyarakat terkait kebutuhan akses melalui Bendungan Lahor.

“Kami memahami aspirasi yang disampaikan masyarakat serta kebutuhan mobilitas masyarakat yang selama ini menggunakan akses Bendungan Lahor. Setelah mempertimbangkan masukan tersebut dan kondisi di lapangan, kami melakukan penyesuaian dengan memberikan akses bagi kendaraan roda empat untuk melintas mulai pukul 04.00 WIB hingga 22.00 WIB. Pengaturan akses ini akan terus dievaluasi secara berkala dengan mempertimbangkan aspek keamanan bendungan” kata Agung.

Dengan pengaturan tersebut, kendaraan roda empat diperbolehkan melintas melalui puncak Bendungan Lahor pada pukul 04.00 WIB hingga 22.00 WIB. Sementara pada pukul 22.00 WIB hingga 04.00 WIB, kendaraan roda empat tidak diperbolehkan melintas.

Dalam pelaksanaannya, kendaraan roda dua (R2) maupun kendaraan roda empat (R4) tetap melakukan pembayaran sebesar Rp1 melalui sistem tap kartu. Mekanisme tersebut diterapkan sebagai upaya pengendalian keamanan di Bendungan Lahor.

Menurut Agung, pengaturan waktu tersebut merupakan upaya PJT I untuk mencari titik temu antara kebutuhan mobilitas masyarakat dan tanggung jawab perusahaan dalam menjaga keamanan bendungan.

“PJT I terbuka terhadap aspirasi masyarakat. Kami berupaya memberikan ruang bagi kebutuhan mobilitas masyarakat, namun pada saat yang sama keamanan dan keandalan bendungan tetap menjadi prioritas. Kami berharap penyesuaian ini dapat menjadi solusi yang dapat diterima bersama,” ujarnya.

PJT I terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, TNI–Polri, pemerintah desa, serta pemangku kepentingan terkait agar pelaksanaan pengaturan akses Bendungan Lahor dapat berjalan aman dan tertib.

Masyarakat diimbau untuk memperhatikan jam operasional yang telah ditetapkan, melakukan tap saat melintas, serta mengikuti arahan petugas di kawasan Bendungan Lahor.