Enter your keyword

Pengelolaan Kualitas Air

Perum Jasa Tirta I

Perusahaan mengoperasikan 2(dua) Stasiun Pemantauan Kualitas Air On-Line berbasis GSM di WS Brantas (di Perning dan Bendung Mrican) sebagai uji coba hasil pengembangan teknologi dengan tujuan melakukan pengendalian kualitas air dan pencemaran air, serta untuk meningkatkan kemampuan monitoring kualitas air, Selain monitoring kualitas air secara On-Line, Perusahaan juga melakukan pemantauan kualitas air secara langsung berdasarkan PP Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air; Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Jawa Tengah Nomor 20 Tahun 2003 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Lintas Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah, serta Perda Provinsi Jawa Timur Nomor 2 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air di Jawa Timur

Secara berkala (dua mingguan,bulanan, dan triwulanan), hasil pemantauan dan evaluasi kualitas air disampaikan kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur dan Jawa Tengah, Direktur BPSDA Ditjen SDA Kementerian PUPR, Kepala Bapeprov, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Jatim dan Jateng, Kepala Dinas PU Pengairan Propinsi Jawa Timur, Kepala BBWS Brantas, Bupati/Walikota di WS Kali Brantas, Kepala Dinas/Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota di WS Kali Brantas dan WS Bengawan Solo.

Laporan hasil pemantauan dan evaluasi kualitas air secara bulanan disampaikan kepada PDAM Kota Surabaya, Sidoarjo, Kepala Divisi Jasa ASA III, dan Kepala Bidang OP Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo. Peran serta Perum Jasa Tirta I dalam upaya pengendalian kualitas dan pencemaran air meningkat dengan dimilikinya Laboratorium Lingkungan (Labling) di Malang dan Mojokerto. Labling milik Perusahaan telah terakreditasi karena ditunjuk sebagai Laboratorium rujukan nasional berdasarkan nomor registrasi 005/LpJ/Labling-i/Lrk/kLh dan sudah menggunakan logo Komite Akreditasi Nasional (KAN) dengan masa berlaku sertifikat mulai tanggal 25 Juli 2013 sampai 24 Juli 2017.Upaya lain adalah dengan menjaga debit sungai Kali Surabaya minimum 20 m3/dt pada musim kemarau, serta memberikan informasi yang rutin pada pelanggan utama bila terjadi pencemaran, serta melakukan kegiatan patroli air yang bekerja sama dengan BLH Provinsi Jawa Timur, BBWS, dan Polda Provinsi Jawa Timur.