Enter your keyword

HARI AIR DAN AREMA

Info seputar Jasa Tirta 1

HARI AIR DAN AREMA

HARI AIR DAN AREMA

Banyak orang yang lahir atau dibesarkan di Malang bangga dengan panggilan “Arek Malang.”

Para ahli mengatakan panggilan tersebut berasal kata “arek” yang merupakan nama sebuah celurit kecil. Budaya “arek” digambarkan sebagai gaya hidup bersemangat, mudah bergaul, cenderung spontan dan berani, ditemui di berbagai kawasan di Jawa Timur.

Istilah “Arek Malang” lebih khusus dipakai menamai diri sendiri, bagi sejumlah kelompok masyarakat di kawasan Malang yang mengidentitaskan diri dengan gaya hidup tadi. Mula-mula, Arema – demikian istilah itu disingkat, memiliki kesan negatif bahkan cenderung kriminal.

Mungkin, karena pada awalnya nama “Arema” memiliki semacam atribut berupa bahasa walikan yang merupakan pembalikan kata-kata sehingga menjadi sejenis bahasa rahasia.

Bahasa rahasia ini dulu dipakai para calo dan preman. Namun, sebenarnya walikan telah lebih dulu dipakai para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia sebagai sandi ketika berperang sekitar Malang tahun 1947-1949.

Bahasa walikan memperkuat identitas Arema dan menjadi semacam trademark Malang. Apalagi setelah sebuah klub sepakbola berdiri dengan nama tersebut, komplit sudah identitas masyarakat dengan kultur tersebut.

Bisa jadi kebanggaan unik Arema ini adalah sebuah perpanjangan dari sikap tegar dan tak mudah berkompromi. Sikap ini konon sudah ditunjukkan ketika Sultan Demak bermaksud menundukkan Malang pada abad 16.

Dalam kisah lisan mengenai peristiwa ini disebutkan penduduk Malang bertempur gagah selama berbulan-bulan. Pertahanan mereka yang terakhir di Kutobedah (Jodipan) berhasil ditundukkan setelah pasukan Demak meracuni sungai dengan bangkai.

Kisah diracuninya Sungai Brantas ini bukan kisah tunggal. Sebab konon, Surabaya pun ditundukkan musuh pada zaman Mataram dengan meracuni air sungai.

Memang, kawasan Malang tak pernah bisa dipisahkan dari air, baik untuk kehidupan maupun sebagai ancaman bagi masyarakat.

Jodipan pun sampai saat ini masih menjadi pemukiman padat di tepi sungai; bahkan dikenal dengan kampung wisata warna-warninya.

Jika dilihat kawasan Malang memang diapit sejumlah sungai utama, seperti Metro di sebelah barat, Bango dan Amprong di timur, serta yang terbesar adalah Brantas.

Pemukiman sejak Kerajaan Kanjuruhan dan Mataram Kuno, berpusat di sekitar Dinoyo, di tepi Metro dan Brantas. Pemukiman kemudian berkembang ke semasa Kerajaan Singhasari ke sebelah timur Bango dan Mewek.

Pada periode Demak, sebagian pemukiman berkembang pula ke arah selatan mengikuti aliran Sungai Brantas. Bahkan di pertemuan Sungai Bango dan Brantas, terdapat bekas-bekas pemukiman yang diperkirakan berasal dari masa pra-Islam.

Pada 1797, ketika orang Belanda mulai bermukim di Malang, mereka membangun lodge (loji) di sebuah bukit kecil dekat kelokan Sungai Brantas yang kini menjadi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syaiful Anwar. Daerah ini sekarang bernama Klojen, yang berasal dari kata kalojinan (tempat loji).

Memperhatikan seluruh cerita ini, wajar apabila Arek Malang memperingati Hari Air Sedunia yang dirayakan secara internasional saban 22 Maret.

Tema Hari Air Sedunia tahun 2017 ini adalah air dan limbah, menyadarkan kita bahwa sungai selain menjadi sumber air juga menampung limbah kita semua.

Sebagaimana kehidupan bisa bersemi dari kedekatan dengan air dan kehancuran bisa timbul karena rusaknya air serta sungai, maka pada hari ini marilah kita menghormati kembali sungai yang menjadi pembentuk Kota Malang.

Tanpa sungai, tak akan bersemi Malang.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz