Enter your keyword

Jelajah Patirtan, Refleksi Hari Air Dunia

Info seputar Jasa Tirta 1

Jelajah Patirtan, Refleksi Hari Air Dunia

Jelajah Patirtan, Refleksi Hari Air Dunia

Sidang umum PBB tahun 1992 di Rio de Janeiro, Brazil menetapkan tanggal 22 Maret sebagai Hari Air Dunia sebagai upaya untuk menarik perhatian publik akan pentingnya air bersih. Perum Jasa Tirta I (PJT-I) sebagai koorporasi yang bergerak dalam pengelolaan sumber daya air setiap tahun berpartisipasi dalam perayaan Hari Air Dunia. Pada tanggal 19 Maret 2017 PJT-I bersama beberapa aktivis dan organisasi non-pemerintah penggiat lingkungan mengikuti kegiatan Jelajah Patirthan Penanggungan. Kegiatan tersebut diadakan oleh Teracota.id, Komunitas Jelajah Jejak Malang, Komunitas Sahitya dan Ecoton, serta dipandu oleh M. Dwi Cahyono (Arkeolog UM). Kegiatan yang diikuti oleh ratusan perserta tersebut berupa kunjungan ke beberapa situs bersejarah yang berhubungan dengan keberadaan sumber mata air di sekitar Kabupaten Pasuruan dan Mojokerto, Jawa Timur. Sekitar 11 orang karyawan PJT-I ikut serta dalam kegiatan tersebut, termasuk mahasiswa Program Master dari Universitas Paris 1 Sorbonne Prancis bernama Maxime Rouch yang saat ini melakukan program internship di PJT-I.

Situs pertama yang dikunjungi adalah Candi Jawi. Candi Jawi (nama asli: Jajawa) adalah candi yang dibangun sekitar abad ke-13 dan merupakan peninggalan bersejarah Hindu-Buddha Kerajaan Singhasari. Candi Jawi terletak di kaki Gunung Welirang, tepatnya di Desa Candi Wates, Kecamatan Prigen, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia, sekitar 31 kilometer dari kota Pasuruan. Candi Jawi banyak dikira sebagai tempat pemujaan atau tempat peribadatan Buddha, namun sebenarnya merupakan tempat pedharmaan atau penyimpanan abu dari raja terakhir Singhasari, Kertanegara. Sebagian dari abu tersebut juga disimpan pada Candi Singhasari. Candi Jawi dikelilingi oleh kanal/ paritan sebagai simbol lautan yang mengelilingi pegunungan Himalaya yang dianggap sakral oleh umat Hindu. Secara ilmiah, paritan tersebut berfungsi mengukur debit air yang berasal dari sumber mata air di sekitar candi baik pada musim penghujan maupun kemarau. Air tersebut kemudian dialirkan untuk irigasi ke sawah-sawah.

Kunjungan selanjutnya adalah ke Pasasti Cunggrang yang merupakan salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Prasasti tersebut terletak di Dusun Sukci, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Pasuruan. Prasasti Cunggrang ini dibuat oleh Mpu Sendok, sang Pendiri Wangsa Isyana Kerajaan Medang (Mataram Kuno) pada tanggal 18 September tahun 851 Saka atau 929 Masehi. Prasasti ini dibangun sebagai ucapan terima kasih kepada penduduk Dusun Cunggrang (sekarang disebut dengan Dusun Sukci) yang telah bergotong royong merawat pertapaan, prasada, dan pancuran air di Gunung Penanggungan yang saat itu disebut dengan Pawitra. Isi dari Prasasti Cunggrang yang terdiri dari tulisan Jawa kuno yang diukirkan tidak dapat terbaca dengan jelas dikarenakan banyak bagian yang rumpil. Namun, inti dari prasasti tersebut menjelaskan bahwa daerah yang bernama Cunggrang, dijadikan daerah sima, yaitu daerah yang dibebaskan dari pajak oleh Kerajaan Mataram.

Dari Prasasti Cunggrang para peserta diajak ke Sumber Tetek Belahan yang terletak di Dusun Belahan Jowo, Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Pasuruan. Sumber Tetek Belahan atau yang lebih dikenal Candi Belahan adalah sebuah pemandian bersejarah dari abad ke 11, pada masa kerajaan Airlangga. Pemandian ini berbentuk kolam persegi empat yang mendapat pasokan air dari sebuah sungai kecil. Selain sebagai tempat pertapaan Prabu Airlangga, petirtaan ini juga di fungsikan sebagai pemandian selir-selir Prabu Airlangga. Oleh karena itu, sebagai bentuk pengabdian dibangunlah 2 patung permaisuri Prabu Airlangga, yaitu Dewi Laksmi dan Dewi Sri. Pada dua patung tersebut, mengalir aliran air dari bentuk payudara patung, dan karenanya petirtaan ini terkadang di sebut sebagai Sumber Tetek (Tetek : Payudara, Jawa).

Lokasi tujuan terakhir adalah Patirtaan Jolotundo yang merupakan pemandian atau kolam yang dibuat pada masa kerajaan Majapahit. Patirtaan Jolotundo terletak di desa Seloliman, Trawas, Kabupaten Mojokerto, tepatnya terletak di lereng Gunung Bekal, yaitu salah satu puncak Gunung Penanggungan. Petirtaan Jolotundo memiliki panjang 16,85 M, lebar 13,52 M dan kedalaman 5,20 M dengan material utama dari batu andesit. Menurut sejarahnya, petirtaan ini merupakan kolam cinta yang dibangun oleh Udhayana (Raja Bali) yang menikah dengan putri Guna Priya Dharma dari Jawa. Dari perkawinan tersebut lahirlah Airlangga pada 991 M.

 

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz