Enter your keyword

PLTM serba serbi

Info seputar Jasa Tirta 1

PLTM serba serbi

Di lingkungan kerja kita akhir-akhir ini sering kita dengar tentang PLTM. Hal ini seiring dengan tuntutan pemilik perusahaan, yaitu laba bersih tumbuh minimal 15% pertahun. Bisnis ini menjadi tidak hanya perlu dilirik saja namun harus betul-betul ditekuni. Kenapa PLTM? Pertama bisnis ini sangat dekat dengan core business PJT-I. Kedua untuk mengejar pertumbuhan laba tidak bisa hanya mengandalkan jasa air baku karena pertambahan pemanfaat yang relatif kecil, serta tarif BJPSDA yang tidak mudah disetujui kenaikannnya oleh pemerintah, disamping tuntutan pelayanan pelanggan juga semaikin tinggi bila tarif naik. Selanjutnya kebutuhan energi listrik masih besar di Republik Indonesia saat ini terutama saat beban puncak. Potensi hydropower di Indonesia 75.620 MW sedangkan yang sudah dibangun baru 3530 MW (tahun 2006) atau hanya 4,7%. Sehingga peluang masih membentang meski kompetitor di bisnis ini sudah bermunculan baik swasta, BUMN maupun perusahaan internasional.

Diwilayah kerja PJT-I sebetulnya sejak lama sudah ada PLTM yaitu PLTM Bening (0,65 MW) dan PLTM Wonorejo (0,236 MW). Namun kedua PLTM tersebut tidak berfungsi dengan berbagai sebab dan alasan yang rasanya tidak perlu diulas disini. PLTM singkatan dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro atau Minihidro yang secara prinsip bekerja dengan tenaga air sama seperti PLTA. Beda dantara PLTA dengan PLTM adalah pada kapasitas pembangkit. Secara sederhana, pembangkit dengan kapasitas kurang dari 1 MW biasa disebut mikrohidro, antara 1 MW s/d 10 MW mini hidro sedangkan di atas 10 MW disebut PLTA.

Bagaimana masukan dibutuhkan untuk pembangunan PLTM?

Pertama adalah ketersediaan debit air. Hal ini penting karena ini yang menjadi sumber tenaga/daya. Sesuai rumus dasar :

P = h total x Q x g x H atau P = Q x H x 7,8

Dimana P = daya (KW), Q= debit (m3/dt), g = gravitasi (9,8 m2/dt) dan H = tinggi jatuh netto (m) , h total= efisiensi total (h turbin x h generator x h percepatan x h trafo)

Tidak mudah menemukan sungai yang memiliki debit konstan untuk pembangkitan. Sehingga lazim dibuat waduk pengatur (regulated weir) sebagai perata aliran, meskipun dengan ukuran tidak sebesar waduk tahunan. Secara prinsip PLTM akan lebih menguntungkan apabila dibangun di run-off river, tanpa bangun terlebih dahulu weir, bendung apalagi waduk.

Ketinggian jatuh atau head sebelum energi air memutar turbin menjadi faktor penting karena semakin tinggi head akan semakin besar pula energi dibangkitkan.

Selanjutnya perlu diteliti pula morfologi ataupun geologi dari calon lokasi PLTM. Apakah aman dari gempa, tanah longsor, rekahan, debris ataupun yang sering dihadapi: sedimen. Akan tidak nyaman apabila dalam waktu singkat PLTM yang baru dibangun mengalami stop operasi atau plugging akibat sedimen. Hal ini akan menaikkan biaya OPnya sementara investasi masih jauh dari impas. Lay-out dasar yang paling ekonomis yaitu posisi terdekat PLTM, pipa pesat terhadap sungai juga menjadi pertimbangan pemilihan lokasi.

Hal-hal tersebut di atas tentunya saat ini bisa lebih mudah dan relatif murah dengan menggunakan teknologi remote sensing, dimana data satelit saat ini bertebaran dan mudah diakses, asal bisa mengintrepretasikan dan mendayagunakannya.

Ketersediaan grid atau jaringan transmisi listrik di lokasi calon PLTM tersebut juga harus diperhitungkan. Semakin jauh grid, biaya pembangunan menjadi lebih mahal.

Lingkungan tempat dibangunnya PLTM juga perlu ditinjau. Jangan-jangan merupakan kawasan hutan lindung dengan syarat mutlak harus ada Amdal yang biasanya “ribet” pengurusannya. Apabila bukan kawasn lindung, hanya perlu Rencana Pengelolaan Lingkungan yang disahkan instansi berwenang. Ini tidak sulit karena PLTM sebetulnya adalah “ramah lingkungan”, hanya saat pembangunannya saja yang perlu perhatian terhadap lingkungan.

Jenis turbin dan generator juga menentukan kelayakan ekonomi dari PLTM yang kita bangun. Apalagi dengan beragamnya teknologi saat ini yang ditawarkan dengan harga bervariasi, namun dengan kualitas yang beragam pula.

Jenis2 turbin

Turbin adalah peralatan hidrolik untuk merubah energi potensial dan kinetik air menjadi energi mekanik. Pada awalnya adalah peralatan berfungsi untuk menaikkan air dari bawah ke atas seperti pompa untuk irigasi dan alat pemutar/giling di pabrik pengolah tanaman pangan. Namun perkembangan selanjutnya difungsikan untuk membangkitkan energi listrik dengan menambah generator. Jenis turbin kuno yang dulunya untuk pompa air dan masih efektif digunakan untuk pembangkitan listrik kapasitas dibawah 100kw, dengan debit 0,1 s/d 15 m3/dt tiap screw dan head rendah 1 s/d 10 m adalah screw archimides yang dikembangkan Archimides287-212 SM.

Sedangkan jenis-jenis turbin yang lazim digunakan dan kapasitasnya adalah seperti dibawah ini :

Type Head (m) Debit (m3/dt) Kecepatan spesifik m/dt
Pelton

Francis

Kaplan

Turgo

Cross flow

Propeler

50 – 1300

40 – 50

2 – 40

50 – 250

2 – 200

(2‐ 10)

0,1 – 70

0.15 – 500

0.5 – 1000

0.05 ‐ 5

0.04 – 15

0.5 – 50

0 – 30

20 – 120

80 – 300

10 – 70

80 – 300

 

Dari tabel di atas nampak bahwa Pelton dan Francis digunakan untuk head tinggi dan debit besar, namun memiliki putaran turbin yang lambat. Jenis lainnya untuk head yang rendah namun putaran tinggi. Pemilihan jenis turbin cukup pelik, karena mengkombinasikan pertimbangan dari debit, head, kapasitas daya seperti grafik di bawah ini.

Hidrokinetik – hidromatrik

Saat ini tengah berkembang jenis turbin hidrokinetik- hidromatrik dengan kekhususan meskipun head rendah namun dapat membangkitkan daya yang lumayan. Turbin ini berbasis pada turbin Kaplan namun terdiri dari beberapa modul kecil yang disatukan membentuk satu unit. Andritz Hydro dari Austria adalah salah satu pengembang sekaligus pemilik lisensi teknologi yang harganya masih mahal ini.

Kerangka kelembagaan dan Perizinan

Untuk membangun PLTM perlu melengkapi dengan izin. Izin pertama diperlukan adalah dari pemilik perusahaan dalam bentuk rencana investasi yang tertuang di RKAP. Kemudian Izin prinsip dari pemerintah daerah setempat. Izin penggunaan air permukaan yang sudah sering kita dengar. UKL/UPL untuk lingkungan. Kemudian power purchase agreement (PPA) dengan PT PLN selaku pengguna daya listriknya.

Bagaimana bila kita melakukan kerjasama dengan perusahaan atau lembaga lain? Awalnya diperlukan MOU, kemudian lebih detail dituangkan dalam Project Development Agreement (PDA), sampai dibentuknya Special Purpose Company (SPC) yaitu perusahaan khusus dibentuk untuk mengelola PLTM tersebut yang merupakan anak perusahaan dari perusahaan induk yang bersama-sama menyusun MOU tadi. Untuk menyusun anak perusahaan bagi suatu BUMN diperlukan izin juga dari pemilik. Dari sini dapat dipahami ada rantai cukup panjang untuk bisa membangun PLTM.

Dukungan pemerintah

Pemerintah saat ini sangat mendukung adanya pembangunan PLTM dengan diterbitkannya Peraturan Menteri ESDM no 04 tahun 2012 yang menjamin agar setiap pengusaha penyedia tenaga listrik dengan energi terbarukan (termasuk PLTM) dengan kapasitas s/d 10 MW pasti dibeli listriknya oleh PT PLN dengan tarif yang menarik. Tarif untuk PLTM Rp.656/kwh jika terkoneksi pada tegangan menengah dan Rp.1.004/kwh jika terkoneksi pada tegangan rendah. Bahkan tarif tersebut dikalikan suatu Faktor dimana di Jawa-Bali = 1 di luar Jawa Bali bisa mencapai 1,3. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tersebut telah diperbaharui lagi dengan Peraturan Menteri (Permen) Menteri ESDM No. 12 Tahun 2014 tertanggal 2 Mei 2014 dengan tariff rata-rata naik menjadi sekitar Rp. 880 sampai Rp. 970/kwh.

Begitu mendesaknya penyediaan listrik dari tenaga air ini hingga pada tahun 2014 ini Wakil Presiden RI bahkan memimpin langsung percepatan pembangunan PLTA di bendungan yang sudah ada. Sebagai pilot adalah Karangkates IV dam V serta PLTA Kesamben yang rencananya dibangun melalui konsorsium BUMN termasuk PJT-I.

Di negara uni eropa sudah lama ada green certificate yaitu suatu mekanisme untuk keringanan pembiayaan baik insentif maupun diskon bunga bagi pengusaha yang membangun PLTM yang dianggap sebagai energi yang ramah lingkungan ini. Sehingga mudah dipahami banyak pengusaha eropa yang berusaha membangun PLTM di banyak negara termasuk di Indonesia.

Divisi Jasa PLTA/PLTM tahun 2014 mencanangkan groundbreaking pembangunan PLTM Lodagung pada bulan Juni dan menghidupkan kembali PLTM Wonorejo. Suatu hal yang telah lama kita nantikan, serta perlu didukung segenap pihak.

Ir. Ulie Mospar Dewanto, MT

Leave a Reply

4 Comments on "PLTM serba serbi"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
Bojes
Guest

Proyek PLTM ini anggaran APBN/Swasta pemiliknya

Public Admin
Admin

Selamat pagi pak Bojes, terimakasih telah mengunjungi website kami
PJT I adalah BUMN berbentuk Perum, terkait anggaran kita murni pembiayaan sendiri.

Teguh
Guest

Apakah proyek-proyek PLTM ini ada kemungkinan pihak swasta (bergerak dalam bidang keuangan) dapat ikut serta berpartisipasi dalam hal pembiayaannya?

Public Admin
Admin

Selamat siang Bapak, untuk pembiayaan kegiatan perusahaan berasal dari dana investasi internal perusahaan. Terima kasih

wpDiscuz